1.Attsoederention deficit/ Hiperactivity
disorder (ADHD)
Attetion deficit/ Hiperactivity disorder (ADHA) atau dalam bahasa indonesianya
adalah Gangguan pemusatan perhatian / Hiperaktivity (GPPH).
Menurut Prof.Dr.Wirawan Sarwono seoprang psikolog senior, istilah GPPH
tak dapat dipukul rata .Perlu dibedakan antara penderita GPPH
dengan anak yang nakal, kreatif, ingin tahu, aktif dari
usianya, dan anak yang ber IQ tinggi.
Untuk menentukkan apakah seseorang anak menderita GPPH, harus dipenuhi 6
syarat.Kalau satu saja tidak terpenuhi, maka belum tentu si anak mengalami
ggaguan tersebut.Adapun 6 syarat tersebut:
1. Sering bermain tangan dan
tak bisa duduk diam.
2. Sering meninggalkan tempat
duduk dalam kelasnya atau pada situasi lain yang membutuhkan anak tetap duduk
diam.
3. Berlari atau memanjat
berlebihan pada situasi tidak tepat.
4. Sering mengalami kesulitan
bermain atau terlibat dalam kegiatan yang memerlukan diam
5. Selalu bergerak seperti
dikendalikan suatu motor
6. Selalu bicara berlebihan.
Dulu,GPPH kerap dianggap sebagai kelainan psikologis atau psikiatrik semata
tanpa kelainan biologis atau organic.Namun penelitian terakhir menunjukkan
adanya kelainan di beberapa daerah otak pada anak-anak yang mengalami GPPPH,
berupa ukurannya yang lebih kecil dibanding anak-anak normal.Daerah tersebut
adalah korteks prefrontal, ganglia basalis, dan otak kecil.
Daerah korteks prefrontal berfungsi menentukkan perilaku dan konsentrasi,
ganglia basalis fungsi ini mengurangi respon otomatis dan mengkoordinasi
berbagai input yg diterima oleh korteks otak. Sedang otak kecil, mungkin
berfungsi dalam pengaturan motivasi. Selain itu, GPPH juga bisa dipicu oleh
gangguan dalam metabolisme substansi kimia yg bernama neurotransmitter.Berbagai
faktor diduga menyebabkan kelainan struktur dan neurokimia otak tersebut,
diantaranya faktor genetik, lingkungan, psikososial, dan factor resiko lainnya.
Anak yang karena berbagai faktor lingkungan seperti kekurangan oksigen dalam
rahim atau kelahiran, terauma lahir, infeksi virus intrauterine, meningitis,
trauma kepala, atau kekurangan gizi, juga berpeluang besar menderita gangguan
ini.
Berbagai faktor sosial dapat juga dapat mencetuskan GPPH pada anak.Faktor itu
misalnya tidak mempunyai orang tua, korban perceraian, adanya saudara bersifat
anti sosial atau alkoholik,penyianyian dan penyiksaan.Faktor resiko lainnya
adalah retardasi mental, berat badan lahir rendah, kelainan fisik minor,
gangguan susunan saraf pusat, gangguan penglihatan dan pendengaran, epilepsi,
gejala sisa trauma kepala, penyakit kronik, dan kesulitan tidur.
GPPH harus ditangani sebaik mungkin,sebab 30 hingga 50 persen GPPH terbawa
sampai ke masa remaja dan dewasa.Karena GPPH di sebabkan oleh gangguan
psikologis/psikiatrik dan gangguan biologi/organik.Maka penangannya pun
dilakukan dengan 2 cara yaitu secara medik dan intervansi sosial.
Tindakan medik berupa pemberian obat dilakukkan bila gejala hiperaktivitas
cukup berat, hingga menyebabkan gangguan di sekolah, dirumah, atau hubungan
dengan teman.Pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala dan memudahkan
terapi psikologi.
Beberapa tehnik intervensi itu adalah :
1. Progrresive Delayed
Procedure, yakni anak-anak dengan GPPH dapat dilatih dengan menunda ganjaran.
2. Intervansi secara
sistematis dan terencana oleh guru.Guru tidak menganggap anak GPPH adalah anak
nakal.Guru harus tegas namun dapat memberikan dukungan.Mis: anak sebaiknya
didudukan didepan.
3. Memberikan pilihan
tugas, murid yang menderita GPPH diberikan kebebasan memilih format tugasnya.
4. Peer tutoring, yakni
meningkatkan atau memperbaiki perilaku di kelas dengan bantuan teman-teman
sekelas.
Secara fisik ditemukan perbedaa bermakna dari hasil pemeriksaan otak pada
penderitaan GPPH dengan agak normal.Pada anak hiperaktif, otak karena persen
lebih kecil ketimbang otak kirinya.Sebanyak 35-50 persen kasus anak
penyandang GPPH, pada hasil pemeriksaan gelombang elektro ensefalografi (EEG)
nya menunjukkan ‘abnormalitas’ yaitu berupa peningkatan gelombang lambat yang
spesifik .”Jadi, masalahnya diotak.”
Menurut berbagai penelitian mutakhir, GPPH jelas merupakan gangguan biologis,
jadi bukan gangguan psikologik semata, yaitu adanya defisiensi atau
kekurangan kepekaan terhadap penguat (reinforcement) atau faktor motivasional.
2.Diseleksia
“ Kesulitan membaca bukan pertanda anak bodoh.Mungkin ia membutuhkan
cara belajar yang tepat.”
Kesulitan membaca (Diseleksia) adalah adanya hambatan dalam perkembangan
kemampuan membaca pada seseorang namun, penyebabnya bukanlah tingkat kecerdasan
yang rendah, gangguan penglihatan/pendengaran , gangguan neurologis ataupun
kurangnya kesempatan berlatih.
Seperti pada kesulitan berhitung(Diskalkulia), kesulitan menulis ekspresif
(disgrafia), masalah penyandang diseleksia adalah pemrosesan di dalam
otaknya.Tak heran seringkali ada perbedaan nyata antara nilai IQ mereka dengan
nilai prestasi akademik sekolahnya.
Gangguan ini tampak pada tiga gejala pokok: tidak teliti dalam membaca,
membacanya dengan lambat, dan pemahaman yang buruk dalam membaca.
Kesulitan membaca itu bisa muncul dalam berbagai bentuk ada yang bisa mengeja
tapi tidak mampu membaca dalam kata, misalnya putih dibaca putu, kaki dibaca
kika.Ada juga yang membacanya terbalik, topi dibaca ipot, minum dibaca
munin.Sulit membedakan huruf b dan d, q dan p, khususnya akibatnya,
mereka dapak untuk bapak.Diluar aspek bahasa, pada anak diseleksia seringkali
terdapat gangguan perkembangan lain.Misalnya, konsentrasi yang buruk, kontrol
diri kurang, dan clumsy contoh konkretnya, terkadang anak mengalami kesulitan
melempar tangkap bola atau mengikat tali sepatu.
Bila tak segera mendapat penanganan yang baik, kesulitan belajar bisa
memberikan dampak negatif bagi anak.Label bodoh, ceroboh bisa membuat mereka
terganggu secara emosional.Gangguan ini bisa mempengaruhi keadaan anak
selanjutnya.
Penelusuran penyebab kesulitan belajar itu sendiri, menurut Dr.Ika Widyawati,
pengajar bagian psikatri FKUI, dapat dilakukkan lewat beberapa
pemeriksaan.Pemeriksaan fisik untuk memeriksa kemungkinan adanaya kelainan
organis pada anak, pemeriksaan psikiatrik dan psikososial untuk melihat konflik
kejiwaan, hubungan sosial atau cara pendidikan yang salah, dan pemeriksaan
psikometrik untuk mengetahui taraf kecerdasan serta potensi anak.
Dari hasil pemeriksaan itu, pada anak dapat dilakukkan pengobatan di bidang
edukatif.Diantaranya lewat pendidikan remedial oleh tenaga
professional.Penanganan itu dapat dikombinasikan dengan psikoterapi, terapi
obat, psikososial, terapi wicara, dan terapi okupasi untuk melatih ketrampilan
motorik halusnya.
Tips membantu anak mengatasi Diseleksia:
1. Jangan memberikan stigma
negatif seperti bodoh, bego, pemalas, pengacau.
2. Jangan membanding-bandingkan
dengan orang lain.
3. Jangan member
tekanan berlebihan sehingga ia akan merasa takut gagal atau mengecewakan.
4. Jangan (tanpa
kesadarannya) menyuruh membaca keras-keras agar terdengar orang lain.
5. Gunakan (kalau perlu) alat
penunjuk/ penanda baca agar penglihatannya mengikuti alur membacanya.
6. Sebaiknya ketrampilan
tangan mereka dilatih dengan melempar tangkap bola, memainkan wayang, bermain
dengan bulir-bulir.
7. Berikan lingkungan yang
kondusif serta guru yang kompeten.
3.Gangguan artikulasi
Anak-anak yang bicaranya tak jelas atau sulit ditangkap dalam istilah
psikologi/psikiatri disebut mengalami gangguan artikulasi atau fonologis. Namun
gangguan ini wajar terjadi karena tergolong gangguan perkemb`ngan. Dengan
bertambah usia, diharapkan gangguan ini bisa diatasi.
Kendati begitu, gangguan ini ada yang ringan dan berat. Yang ringan, saat usia
3 tahun si kecil belum bisa menyebut bunyi L, R, atau S. Hingga, kata mobil
disebut mobing atau lari dibilang lali. “Biasanya gangguan ini akan hilang
dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan
menggunakan bahasa yang baik dan benar,” jelas Dra. Mayke S. Tedjasaputra.
Hanya saja, untuk anak yang tergolong “pemberontak” atau negativistiknya kuat,
umumnya enggan dikoreksi. Sebaiknya kita tak memaksa meski tetap memberitahu
yang benar dengan mengulang kata yang dia ucapkan. Misal, “Ma, yuk, kita
lali-lali!”, segera timpali, “Oh, maksud Adik, lari-lari.”
Yang tergolong berat, anak menghilangkan huruf tertentu atau mengganti huruf
dan suku kata. Misal, toko jadi toto atau stasiun jadi tatun. “Pengucapan
semacam ini, kan, jadi sulit ditangkap orang lain,” ujar pengajar di Fakultas
Psikologi UI dan konsultan psikologi di LPT UI ini.
PENYEBAB
Gangguan fonologis bisa dikarenakan faktor usia yang mengakibatkan alat bicara
atau otot-otot yang digunakan untuk berbicara (speech motor) belum lengkap atau
belum berkembang sempurna; dari susunan gigi geligi, bentuk rahang, sampai
lidah yang mungkin masih kaku. Beberapa kasus gangguan ini malah berkaitan
dengan keterbelakangan mental. Anak yang kecerdasannya tak begitu baik,
perkembangan bicaranya umumnya juga akan terganggu. Bila gangguan neurologis
yang jadi penyebab, berarti ada fungsi susunan saraf yang mengalami gangguan.
Sebab lain, gangguan pendengaran. Bila anak tak bisa mendengar dengan jelas,
otomatis perkembangan bicaranya terganggu. Tak kalah penting, faktor
lingkungan, terutama bila anak tidak/kurang dilatih berbicara secara benar.
TERAPI BICARA
Bila penyebabnya kurang latihan atau stimulasi, akan lebih mudah dan relatif
lebih cepat penyembuhannya asal mendapat penanganan yang baik. Namun bila
dikarenakan gangguan neurologis, perlu dikonsultasikan ke ahli neurologi.
Sementara jika berhubungan dengan keterbelakangan mental, biasanya relatif lebih
sulit karena tergantung tingkat keterbelakangan mentalnya. “Kalau masuk
kategori terbelakang sedang, pengucapan kata-kata anak biasanya juga sulit
ditangkap. Akan tetapi dengan pemberian terapi bicara, pengucapannya bisa agak
jelas, meski ada juga beberapa yang masih sulit dicerna oleh orang yang
mendengarkannya,” jelas Mayke.
Yang jelas, jika gangguannya masuk dalam taraf sulit, dianjurkan membawa anak
berkonsultasi. Kriteria sulit: bila sudah mengganggu komunikasi atau kontak
dengan orang lain, bahkan orang serumah pun tak mengerti apa yang dimaksudnya.
Bila sudah ber”sekolah”, gangguan ini bisa mempengaruhi prestasi. Misal, harus
bernyanyi di depan kelas, tapi karena belum fasih membuatnya tak berani tampil.
Jikapun berani, pengucapannya yang tak jelas akan memancing teman-teman
mengolok-oloknya.
Dibutuhkan bantuan ahli terapi bicara untuk mengatasinya. Biasanya terapis akan
menelaah kembali apakah si kecil mengalami gangguan speech motor. Gangguan
speech motor ada yang bisa dilatih seperti halnya meniup lilin. Tak jarang
perlu pula bantuan ahli THT untuk mengoreksi adanya gangguan pada organ-organ
yang berhubungan dengan bicara yang berada di daerah mulut. Mungkin ada anak
yang lidahnya tak terbentuk dengan baik, hingga terlalu pendek dan mempengaruhi
kemampuan bicaranya. Cacat bawaan seperti sumbing juga bisa berpengaruh pada
cara bicaranya, tapi gangguan ini bisa diatasi dengan operasi dan terapi
bicara.
BAWA BERKONSULTASI
Anak yang mengalami gangguan fonologis kriteria sedang hingga berat, biasanya
terlambat pula perkembangan bicaranya. Misal, baru bisa bicara di usia 3 tahun,
atau usia 2,5 tahun baru bisa menyebut Mama/Papa. Kemungkinan lain, meski sudah
2 tahun tapi kemampuan bicaranya masih tahap bubbling alias tanpa arti, seperti
“ma…mapa…pa”. Namun bahasa resetif atau penerimaannya cukup baik, hingga bila
ia disuruh atau diajak bicara akan mengerti.
Yang seperti ini pun, saran Mayke, sebaiknya dibawa berkonsultasi karena bila
dibiarkan berlanjut, kemungkinan anak akan mengalami gangguan fonologis lebih
parah. Itu sebab, bila sejak usia 10 bulan atau setahun, anak mulai dapat
menyebut “Mama/Papa”, tapi selepas 2 dua tahun tak bertambah, kita harus curiga
dan cepat minta bantuan ahli. Terlebih bila kita sudah cukup banyak memberi
stimulasi atau rangsangan. Bisa dengan membawanya ke psikolog/psikiater lebih
dulu untuk mengetahui apakah ia mengalami gangguan fonologis karena
keterbelakangan mental, gangguan neurologis, atau sebab lain.
Bila masalahnya menyangkut gangguan yang tak bisa dit`ngani psikolog, sebaiknya
anak dirujuk ke ahli lain, seperti neurolog atau ahli terapi bicara. Para ahli
terapi bicara bisa ditemui di berbagai institusi yang melakukan terapi untuk
anak autis atau anak yang mengalami gangguan perhatian. Mereka biasanya juga
menangani anak yang mengalami gangguan bicara. Sedangkan lama penanganan
tergantung beberapa hal. Seperti berat-ringan gangguan, upaya/kesediaan orang
tua untuk mengantar anaknya terapi secara teratur maupun melatihnya di rumah,
serta kerjasama dari anak. Jadi, saran Mayke, kita jangan segan-segan
menanyakan pada terapis apa yang perlu dilakukan di rumah untuk menangani anak.
Harusnya terapis-terapis pun cukup terbuka untuk memberi saran atau masukan
seperti itu.
Keahlian terapis juga mempengaruhi tenggang waktu yang dibutuhkan untuk
menangani gangguan anak. Begitu pula penguasaan/pendalaman terhadap
masing-masing bentuk gangguan, tingkat kesulitan, dan cara penanganan yang
tepat untuk tiap gangguan tadi. Selain, terapis juga harus bisa membina
hubungan baik dengan anak, hingga anak merasa senang mengikuti program
tersebut. Sebaliknya, akan jadi kendala bila si terapis kaku dan tak bisa
membujuk anak
Sumber : tabloid nakita (KG Group)
4.Autisme
AUTISME atau disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD),
hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini
sudah ada beberapa langkah tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki
kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara.
Tanda – tanda Autisme
- - tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa
sehari-hari
- - hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
- - mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
- - tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang
lain
- - hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu
saja yang dia mainkan)
- - serasa dia punya dunianya sendiri
- - tidak suka berbicara dengan orang lain
- - tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain
Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme :
1. Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal
adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya
kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di
negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang …
2. Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya
interaksi antara anak – orang tua semakin berkurang karena berbagai hal.
Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata
ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang
menjadi jarang bersosialisasi karenanya.
Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada
perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata
adalah kasus pada negara terpencil Bhutan – begitu mereka mengizinkan TV di
negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis.
Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih
polos. Hiperaktif ? ADHD ? Autisme ? Sebuah penelitian akhirnya kini
telah mengakui kemungkinan tersebut.
1. Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab
autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada
anak-anaknya.
Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental
sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan
hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.
Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.
Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna,
dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika
zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang
kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.
Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun
1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation,
dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba
diasingkan oleh AMA,
dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana.
Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi
bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern.
1. Radiasi pada janin bayi :
Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi
kidal.
Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga
berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang
tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG – hindari jika tidak
perlu.
2. Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita
hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata,
tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.
Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini,
yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic
acid – namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil
diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).
Atau yang lebih baik – perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid,
karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping
:
Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects
1. Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada
beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre
school) dapat memicu reaksi autisme.
Diperkirakan,
bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada
dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan
asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi
mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.
Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi
bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka
mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri.
Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir
lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan
bahagia.
Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang
akan ditemukan di masa depan, sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di
bidang ini.
Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena
umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan
orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya
hingga usia empat tahun.
Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga
tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya.
Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus
dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.
Nah, kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita
autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota
keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan
hal itu.
Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa
keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan
melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi
penderita autis, baik itu terapi perilaku – ABA, terapi sensori integrasi,
terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT,
Dolphin Assisted Therapy.
“Terapi perilaku – ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak
autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah
bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau
melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka,” kata dr
Irawan dalam seminar yang diselenggarakan di Kantor Pusat Sun Hope Indonesia,
belum lama ini.
Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis
otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu,
terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain
itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang
mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.
Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya
langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang
autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa
anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.
Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua
perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti
makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip,
dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.
“Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang
mengandung casein (protein susu) dan gluten
(protein tepung),”
Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien
autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose
intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi
antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope
probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).
“Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat
dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak
tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna
dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material
tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal
tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif,” jelasnya panjang lebar.
Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu
meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3
5.GANGGUAN PENCERNAAN, PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN PADA ANAK
Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau
pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang
merawat anaknya. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami
oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak
yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering
membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya.
Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6
tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar
79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan
Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa.
Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak.
Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin
tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi
berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti
vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi
bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi
tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.
Dengan penanganan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat
mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak
Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya.
Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah
dewasa nantinya.
GEJALA SUATU PENYAKIT
Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala
atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada
tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak
untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan
jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai
dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap
dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat
tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap,
menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau
menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan
berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan
makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau
menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak
variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.
PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN
Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi
organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat
berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi
didapat dalam usia anak.
Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor,
diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan
pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi
sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah
hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor
psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai
ditinggalkan atau sangat jarang.
Pengaruh hilang atau berkurangnya nafsu makan tampaknya merupakan penyebab
utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai
dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan).
Tampilan gangguan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum
ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan sering sisa atau
hanya sedikit atau mengeluarkan dan menyembur-nyemburkan makanan di mulut.
Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya atau
tidak mau makan dan minum sama sekali. Berkurang atau hilangnya nafsu makan ini
sering diakibatkan karena gangguan fungsi saluran cerna.
Gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada
gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah
perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering muntah atau
seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila
menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah. Sering nyeri perut
sesasaat, bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”,
tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering
(>2 kali/perhari). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras,
bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok,
pernah ada riwayat berak darah. Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik,
tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain
tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah
banyak atau mulut berbau
Gangguan saluran cerna biasanya disertai kulit yang sensitif. Sering timbul
bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat,
kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Saat
bayi sering timbul gangguan kulit di pipi, sekitar mulut, sekitar daerah popok
dan sebagainya.
Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi
pada banyak anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut
merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan
dengan kesulitan makan pada anak.
GANGGUAN PROSES MAKAN DI MULUT
Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan
menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di
sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik
tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan
oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di
sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa gangguan
mengunyah makanan.
Tampilan klinis gangguan mengunyah adalah keterlambatan makanan kasar tidak
bisa makan nasi tim saat usia 9 bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1 tahun,
tidak bisa makan daging sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Bila
anak sedang muntah dan akan terlihat tumpahannya terdapat bentukan nasi yang
masih utuh. Hal ini menunjukkan bahwa proses mengunyah nasi tersebut tidak
sempurna. Tetapi kemampuan untuk makan bahan makanan yang keras seperti krupuk
atau biskuit tidak terganggu, karena hanya memerlukan beberapa kunyahan.
Gangguan koordinasi motorik mulut ini juga mengakibatkani kejadian tergigit
sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja.
Kelainan lain yang berkaitan dengan koordinasi motorik mulut adalah keterlambatan
bicara dan gangguan bicara (cedal, gagap, bicara terlalu cepat sehingga sulit
dimengerti). Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan
keseimbangan dan motorik kasar lainnya seperti tidak mengalami proses
perkembangan normal duduk, merangkak dan berdiri. Sehingga terlambat
bolak-balik (normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan)
atau tidak merangkak tetapi langsung berjalan, keterlambatan kemampuan mengayuh
sepeda (normal usia 2,5 tahun), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”. Bila
berjalan selalu cepat, terburu-buru seperti berlari, sering jatuh atau
menabrak, sehingga sering terlambat berjalan. Ciri lainnya biasanya disertai
gejala anak tidak bisa diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif. Mudah marah
serta sulit berkonsentrasi, gampang bosan dan selalu terburu-buru.
Gangguan saluran pencernaan tampaknya merupakan faktor penyebab terpenting
dalam gangguan proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan
teori ”Gut Brain Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan
saluran cerna maka mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak. Gangguan
fungsi susunan saraf pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan
neurofungsional. Salah satu manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan
koordinasi motorik kasar mulut.
Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ
tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.Diantaranya adalah
kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok
terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia,
trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi,
kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam
kandungan.
Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan
terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan
bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis,
poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan
bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan
perilaku dan perkembangan lainnya.
GANGGUAN PSIKOLOGIS
Gangguan psikologis dahulu dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan
pada anak. Tampaknya hal ini terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam
menemukan penyebab kesulitan makan pada anak maka gangguan psikologis dianggap
sebagai diagnosis keranjang sampah untuk mencari penyebab kesulitan makan pada
anak. Untuk memastikan gangguan psikologis sebagai penyebab utama kesulitan
makan pada anak harus dipastikan tidak adanya kelainan organik pada anak.
Kemungkinan lain yang sering terjadi, gangguan psikologis memperberat masalah
kesulitan makan yang memang sudah terjadi sebelumnya.
Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu
waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor
psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik.
Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari
dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya
mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.
Pakar psikologis menyebutkan sebab meliputi gangguan sikap negatifisme, menarik
perhatian, ketidak bahagian atau perasaan lain pada anak, kebiasaan rewel pada
anak digunakan sebagai upaya untuk mendapatkan yang sangat diinginkannya,
sedang tertarik permainan atau benda lainya, meniru pola makan orang tua atau
saudaranya reaksi anak yang manja.
Beberapa aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan
orang tua, antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya
dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang
tua yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik
atau suasana keluarga yang penuh pertentangan, permusuhan atau emosi yang
tinggi akan mengakibatkan anak mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia,
sedih atau depresi. Hal itu mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga
bisa membuat anak menarik diri dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk
aktifitas makannya
Sikap orang tua dalam hubungannya dengan anak sangat menentukan untuk
terjadinya gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan gangguan makan.
Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : perlindungan dan perhatian
berlebihan pada anak, orang tua yang pemarah, stress dan tegang terus menerus,
kurangnya kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, urangnya pengertian
dan pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak, hubungan antara orang
tua yang tidak harmonis, sering ada pertengkaran dan permusuhan.
KOMPLIKASI KESULITAN MAKAN
Peristiwa kesulitan makan yang terjadi pada penderita Autis biasanya
berlangsung lama. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi
seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral dan anemia (kurang darah).
Defisiensi zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan
metabolisme dan gangguan fungsi tubuh lainnya yang terjadi pada penderita
Autis. Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan
terapi yang sudah dilakukan selama ini.
Kekurangan kalori dan protein yang terjadi tentunya akan mengakibatkan gangguan
pertumbuhan pada penderita Autis. Tampilan klinis yang dapat dilihat adalah
kegagalan dalam peningkatan berat badan atau tinggi badan. Dalam keadaan normal
anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat badan 2 kilogram
dalam setahun. Pada penderita kesulitan makan sering terjadi kenaikkan berat
badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderunagn tetap dalam keadaan yang
cukup lama.
PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK
Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada
anak yang harus dilakukan adalah : (1). Pastikan apakah betul anak mengalami
kesulitan makan Cari penyebab kesulitan makanan pada anak, (2). Identifikasi
adakah komplikasi yang terjadi, (3) Pemberian pengobatan terhadap penyebab,
(4). Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau
coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
Gangguan fungsi pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling
penting dalam kesulitan makan. Gangguan fungsi saluran cerna kronis yang terjadi
seperti alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan sebagainya.
Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai penyebab utama
gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan
kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai
diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru. Penelitian yang dilakukan di
Picky Eater Clinic Jakarta menunjukkan, setelah dilakukan penghindaran makanan
tertentu pada 218 anak dengan kesulitan makan dengan gangguan intoleransi
makanan, alergi makanan, penyakit coeliac, Setelah dilakukan penghindaran
makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada
minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan
saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu
pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa
diperbaiki sekitar 30%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring
dengan pertambahan usia.
Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran
yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak
oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan
sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah
ini. Aktifitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan
tertentu juga sering dianjurkan untuk gangguan ini.
Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus
kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk
menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya.
Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan
tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus
berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung
dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa
akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.
Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus
ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan
makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku
makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Kesulitan makan disertai
gangguan fungsi saluran cerna biasanya terjadi jangka panjang, dan sebagian
akan berkurang pada usia tertentu. Gangguan alergi makanan akan membaik setelah
usia setelah usia 5-7 tahun. Tetapi pada kasus penyakit coeliac atau
intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit
yang terjadi hingga dewasa.
6.Depresi
pada anak
Bukanlah hal aneh jika orang dewasa mengalami depresi. Seiring dengan
meningkatnya beban hidup di masa sekarang ini, meningkat pula kecenderungan
orang untuk menjadi depresi. Tapi, bagaimana jika ini terjadi pada anak kecil
yang dianggap belum mempunyai beban hidup? Apakah ada kemungkinan mereka
mengalami depresi? Jawabnya ternyata ADA!
Bagaimana cara mengetahui anak kita mengalami depresi? Apakah kesedihan pada
anak-anak dianggap tidak wajar? Bagaimana cara membedakan kesedihan dengan
depresi pada anak-anak? Semuanya akan dibahas di bawah ini.
Gangguan depresi pada anak sebelumnya tidak terlalu dikenali dan biasanya
dianggap sebagai gangguan mood yang normal pada fase perkembangan. Keraguan ini
disebabkan karena anak dan remaja dianggap belum matang secara psikologis dan
kognitif. Berdasarkan penelitian, anak perempuan memiliki kecenderungan untuk
menderita depresi lebih tinggi daripada anak laki-laki.
Depresi merupakan sekelompok penyakit gangguan alam perasaan dengan dasar
penyebab yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap etiologi
depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah:
1. Faktor genetik
Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat ditentukan, faktor genetik
mempunyai peran terbesar. Gangguan alam perasaan cenderung terdapat dalam suatu
keluarga tertentu. Bila pada suatu keluarga, salah satu orangtua menderita
depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat untuk menderita depresi dan
apabila kedua orangtuanya menderita depresi maka risiko untuk mendapat gangguan
alam perasaan sebelum usia 18 tahun menjadi empat kali lipat.
Pada kembar monozigot, 76% akan mengalami gangguan afektif sedangkan bila
kembar dizigot hanya 19%. Pricer (1968) dan Bertelsen et al (1977) melaporkan
hasil yang hampir sama. Bagaimana proses gen diwariskan, belum diketahui secara
pasti. Bahwa kembar monozigot tidak 100% menunjukkan gangguan afektif,
kemungkinan ada faktor non-genetik yang turut berperan.
2. Faktor Sosial
Dilaporkan bahwa orangtua dengan gangguan afektif cenderung akan selalu
menganiaya atau menelantarkan anaknya dan tidak mengetahui bahwa anaknya
menderita depresi sehingga tidak berusaha untuk mengobatinya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua, jumlah sanak saudara, status
sosial keluarga, perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau
struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan depresi pada anak.
Ibu yang menderita depresi lebih besar pengaruhnya terhadap kemungkinan
gangguan psikopatologi pada anak dibandingkan jika depresi terjadi pada ayah.
Beberapa peneliti melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat
penganiayaan fisik atau seksual dengan depresi, tetapi mekanismenya belum
diketahui secara pasti.
Diyakini bahwa faktor non-genetik seperti faktor fisik maupun lingkungan
merupakan pencetus kemungkinan terjadinya depresi pada anak dengan riwayat
genetik.
3. Faktor Biologis lainnya
Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme gangguan alam perasaan terfokus
pada terganggunya regulator sistem monoamin-neurotransmiter, termasuk
norepinefrin dan serotonin (5-hidroxytriptamine). Hipotesis lain menyatakan
bahwa depresi yang terjadi erat hubungannya dengan perubahan keseimbangan
adrenergik-asetilkolin yang ditandai dengan meningkatnya kolinergik, sementara
dopamin secara fungsional menurun.
Diduga ada kaitan antara depresi dengan adanya gangguan kesehatan lain,
seperti: infeksi virus, anemia, hipotiroid atau hipertiroid, dan epilepsi.
Namun penyebab yang pasti dari depresi ini masih belum dapat dipastikan. Diduga
kombinasi dari kerentanan genetik (biologi), pengalaman perkembangan yang
kurang optimal secara psikologi dan terpapar pada stresor sosial dapat
menyebabkan gangguan ini. 90% gejala depresi pada anak dan remaja didahului
oleh adanya pemicu.
Faktior risiko yang dapat memicu munculnya depresi:
- adanya riwayat depresi pada keluarga
- episode depresi sebelumnya
- konflik keluarga
- kelemahan dalam bidang akademik
- gangguan cemas atau penyalahgunaan zat
Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang
memerah pada penyakit flu, gejala depresi tidaklah terlalu konkret, dan sebagai
konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orangtua. Berikut ini
adalah tanda-tanda depresi:
- Keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit sendi dan otot, sakit perut, dan
rasa lelah
- Sering bolos sekolah atau sikapnya di sekolah tidak baik
- Adanya maksud dan usaha untuk lari dari rumah
- Berteriak tanpa kejelasan, sering menangis atau mengeluh terhadap segala
sesuatu
- Merasa cepat bosan
- Tidak ada minat untuk bermain dengan teman-temannya
- Penggunaan zat atau alkohol
- Tidak mau berkomunikasi dan berteman lagi
- Takut akan kematian
- Sangat sensitif terhadap penolakan dan kegagalan
- Sering menunjukkan rasa marah, bermusuhan, dan sikap yang mudah tersinggung
- Perilaku yang membahayakan dan ceroboh
- Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman atau orang lain
- Konsentrasi yang buruk yang dapat berhubungan dengan nilai sekolahnya
- Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
- Kurangnya antusiasme atau motivasi
- Kelelahan kronis atau kekurangan energi
- Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
- Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat
badan yang terlihat jelas, suka sekali tidur atau sulit tidur)
- Suka lupa
- Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
- Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara
atau mengekspresikan diri)
- Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang
lain, atau dengan tema yang sedih
- Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.
Depresi harus dibedakan dengan kesedihan yang normal dan gangguan psikiatris
lainnya. Sebelum diagnosis psikiatris ditegakkan, kondisi organik yang mirip
ataupun yang menimbulkan gejala-gejala psikiatris harus disingkirkan terlebih
dahulu seperti gangguan organik, intoksikasi zat, ketergantungan dan
abstinensi, distimia, siklotimia, gangguan kepribadian, berkabung, serta
gangguan penyesuaian.
Keadaan seperti ini sangat bervariasi, sehingga pengetahuan tentang
perkembangan anak normal dan penyakit fisik dengan manifestasi psikiatris
sangat diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis yang akurat.
Bagaimana mengobati depresi anak?
Perawatan di rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan indikasi, misalnya
penderita cenderung mau bunuh diri, atau adanya penyalahgunaan atau ketergantungan
obat. Pada umumnya, penderita berhasil ditangani dengan rawat jalan. Sekali
diagnosis depresi berat ditegakkan pada anak, psikoterapi dan medikasi
merupakan terapi yang harus diberikan. Namun, pengobatan selalu bersifat
individual, tergantung pada hasil pertimbangan evaluasi anak dan keluarganya,
termasuk kombinasi terapi individu, terapi keluarga, serta konsultasi dengan
pihak sekolah.
Pengobatan populasi depresi pada umumnya bersifat multi modal, meliputi anak,
orangtua, dan sekolah untuk memperpendek episode depresi. Pada anak yang
mengalami depresi, pengembangan kognitif dan emosi merupakan intervensi
psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda
yang digunakan telah menunjukkan hasil, seperti:
• Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)
• Terapi bermain (play therapy)
• Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)
• Terapi tingkah laku (behavioral therapy)
• Model stres hidup (life stress model)
• Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy)
• Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua (parent
training), terapi keluarga (family training), pendidikan remedial (remedial
education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).
Sedangkan, farmakoterapi yang sering digunakan:
1. Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.
Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan yang berarti
antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini bersifat
kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.
2. Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin: fluoksetin
dan sertralin.
Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada anak dan
remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja karena dapat
ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih sedikit dibandingkan
dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya, sedikit sekali penelitian
tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada anak dan remaja. Dibandingkan
dengan usia dewasa, pada masa remaja cenderung berkembang untuk agitasi atau
menjadi mania bila mereka mendapat SSRIs (Selective Serotinine Reuptake
Inhibitors). Obat ini juga dapat menurunkan libido.
3. Litium karbonat
Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami
agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih berguna pada
kasus yang berisiko menjadi bipolar.
Apabila depresi berat tidak diobati dan terus berlangsung dalam kurun waktu
7-12 bulan, maka akan berlanjut menjadi episode depresi berulang (recurrent)
dengan gangguan sosial yang persisten antar dua episode. Semakin muda usia
mulainya depresi, semakin jelek prognosisnya, tetapi erat hubungannya dengan
faktor genetik. Anak yang mengalami depresi berat cenderung untuk menderita
depresi berat berulang dan gangguan bipolar. Kebanyakan yang sembuh dalam
beberapa bulan, kembali relaps 1-2 tahun kemudian.
Jadi, depresi dapat terjadi pada anak sebagaimana orang dewasa dan insidennya
cenderung meningkat sehingga perlu diagnosis dini untuk memperoleh hasil terapi
yang efektif. Psikoterapi yang sesuai dengan perkembangan anak merupakan
pilihan awal sebelum farmakoterapi.
7.Gangguan Saraf Bisa Pengaruhi Proses Persepsi Anak
ADA kalanya gangguan saraf yang dialami anak bisa mempengaruhi proses
persepsi atau pemrosesan informasi anak tersebut, sehingga ia tidak dapat
merasakan adanya perhatian yang diarahkan padanya. Contohnya, ada kasus seorang
bayi yang rewel terus dan restless karena dalam tubuhnya terdapat unsur cocaine
atau zat addictive yang sudah mempengaruhi pertumbuhan struktur saraf otak
sejak masa konsepsi (pembentukan jaringan).
Problem ini bisa disebabkan masalah alkoholisme atau obat-obatan yang biasa
dikonsumsi orangtua sebelum dan selama masa kehamilan; atau karena efek samping
obat-obatan yang harus diminum anak akibat penyakit yang sedang dideritanya.
Dampak problem kelekatan
anak dengan orangtua. Anak-anak yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi
akibat problem kelekatan yang dialami, berpotensi mengalami maralah
intelektual, masalah emosional dan masalah moral dan sosial di kemudian hari.
Masalah intelektual
mempengaruhi kemampuan pikir seperti halnya memahami proses sebab-akibat.
Ketidakstabilan atau ketidakkonsistenan sikap orangtua, mempersulit anak
melihat hubungan sebab-akibat dari perilakunya dengan sikap orangtua yang
diterimanya. Dampaknya akan meluas pada kemampuannya dalam memahami kejadian
atau peristiwa-peristiwa lain yang dialami sehari-hari. Akibatnya, anak jadi
sulit belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.
Kesulitan belajar.
Kurangnya kelekatan dengan orangtua, membuat anak lamban dalam memahami baik
itu instruksi maupun pola-pola yang seharusnya bisa dipelajari dari perlakuan
orangtua terhadapnya atau kebiasaan yang dilihat atau dirasakannya.
Sulit mengendalikan dorongan. Kebutuhan emosional yang tidak perpenuhi, membuat
anak sulit menemukan kepuasan atas situasi atau perlakuan yang diterimanya,
meski bersifat positif. Ia akan terdorong untuk selalu mencari dan mendapatkan
perhatian orang lain. Untuk itu, ia berusaha sekuat tenaga, dengan caranya
sendiri untuk mendapatkan jaminan bahwa dirinya bisa mendapatkan apa yang
diinginkan.
Menurut sebuah hasil penelitian, problem kelekatan yang dialami anak sejak usia
dini, dapat mempengaruhi kemampuan bicaranya. Dalam dunia psikologi, hingga
usia 2 tahun dikatakan sebagai masa oral, di mana seorang anak mendapat
kepuasan melalui mulut (menghisap-mengunyah makanan dan minuman). Oleh sebab
itulah proses menyusui menurut para ahli merupakan proses yang amat penting
untuk membangun rasa aman yang didapat dari pelukan dan kehangatan tubuh sang
ibu. Ada kemungkinan anak yang mengalami hambatan pada masa ini akan mengalami
kesulitan atau keterlambatan bicara.
Memang, secara psikologis anak yang merasakan ketidaknyamanan akan kurang
percaya diri dalam mengungkapkan keinginannya. Atau, kurangnya kelekatan
tersebut membuat anak berpikir bahwa orangtua tidak mau memperhatikannya
sehingga ia lebih banyak menahan diri. Akibatnya, anak jadi tidak terbiasa
mengungkapkan diri, berbicara atau mengekspresikan diri lewat kata-katanya.
Ada pula penelitian yang mengatakan, bahwa melalui komunikasi yang hangat
seorang ibu terhadap bayinya, lebih memacu perkembangan kemampuan bicara anak
karena si anak terpacu untuk merespons kata-kata ibunya.
Ada banyak orangtua yang kurang responsif/kurang tanggap terhadap tangisan
bayinya. Mereka takut jika terlalu menuruti tangisan bayinya, kelak ia akan
jadi anak manja dan menjajah orangtua.
Padahal, tangisan seorang bayi adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan adanya
kebutuhan seperti halnya rasa lapar atau haus. Ketidakkonsistenan orangtua
dalam menanggapi kebutuhan fisiologis anak, akan ikut mengacaukan proses
metabolisme dan pola makan anak.
Ketiadaan perhatian orangtua, sering mendorong anak membangun image bahwa
dirinya mandiri dan mampu hidup tanpa bantuan siapa pun. Image itu berusaha
keras ditampilkan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.
Padahal, dalam dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit hati
terhadap orangtua, sementara ia juga menyimpan persepsi yang buruk terhadap
diri sendiri. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak
berharga, sehingga orangtua tidak mau mendekat padanya (dan, memang ia juga
merasa tidak ingin didekati).
8.Masalah
Ngompol Pada Anak
Apa itu ngompol?
Ngompol atau sering juga disebut dengan nokturnal enuresis ialah pengeluaran
urine yang tidak disadari pada saat tidur. Terkadang definisi ngompol juga
digunakan untuk menyebut anak anak yang gagal mengontrol pengeluaran urine saat
mereka terjaga.
Apa saja jenis ngompol ?
Menurut terjadinya, ngompol dapat dibagi dua yaitu :
Enuresis/Ngompol Primer – ngompol yang terjadi sejak bayi dan
Enuresis/Ngompol Sekunder – ngompol yang kembali terjadi setelah sang anak
tidak pernah ngompol lagi minimal 6 bulan.
Apakah ngompol primer itu?
Ngompol primer terjadi diduga akibat dari keterlambatan proses pematangan
sistem saraf pada anak anak. Pada usia 5 tahun, kurang lebih 20% dari anak anak
akan ngompol sekali dalam sebulan. Dari jumlah itu, 5% dari anak laki laki dan
1% dari anak perempuan akan ngompol pada malam hari. Memasuki usia 6 tahun,
prosentase anak yang ngompol akan berkurang menjadi 10% dan sebagian besar
adalah anak laki laki. Prosentase anak yang ngompol setiap tahun akan terus
berkurang menjadi setengahnya setelah sang anak melewati usia 5 tahun. Ada pula
ahli yang menghubungkan riwayat keluarga dengan ngompol primer ini. Jika salah
satu dari orang tuanya mempunyai kebiasaan ngompol maka kemungkinan 45% anaknya
akan mempunyai kebiasaan yang sama.
Apa yang menjadi masalah utama dari ngompol primer?
Masalah utama yang dihadapi oleh anak anak pengompol primer adalah
ketidakmampuan otak untuk menangkap sinyal yang dikirimkan oleh kandung kencing
yang sudah penuh saat sang anak terlelap. Kenyataannya, kapasitas kandung
kencing pada anak pengompol lebih kecil daripada anak anak yang normal.
Apakah ngompol primer ada hubungannya dengan masalah emosional?
Beberapa orang tua mempercayai bahwa kebiasaan ngompol primer yang terjadi pada
anak anak mereka disebabkan oleh karena faktor emosional. Namun tidak ada
penelitian di bidang kedokteran yang mampu membuktikan pernyataan ini.
Bagaimana mengatasi ngompol primer?
Cara mengatasi ngompol primer sangat berhubungan dengan waktu. Kesabaran dan
peran serta orang tua sangat diharapkan. Namun tidak sedikit dari mereka yang
frustasi dengan lamanya sang anak mengalami ngompol primer dan mencoba
melakukan berbagai cara untuk mengatasinya termasuk dengan memberikan
penghargaan atau hadiah bila sang anak tidak ngompol. Ternyata tindakan ini
cukup berhasil dalam mengatasi ngompol primer. Tujuh puluh lima persen dari
anak pengompol primer mengalami kemajuan yang berarti dengan cara ini. Orang
tua yang selalu memotivasi anaknya untuk mengontrol kebiasaan ngompol sangat
berpengaruh terhadap kemampuan sang anak dalam mengendalikan pengeluaran urine.
Seberapa sering kejadian ngompol sekunder?
Hanya sekitar 2%-3% dari anak pengompol yang kebiasaan ngompolnya disebabkan
oleh karena faktor penyakit. Faktor inilah yang menjadi penyebab utama
terjadinya ngompol sekunder.
Penyakit apa saja yang menyebabkan ngompol sekunder?
Infeksi saluran kemih, gangguan metabolisme (kencing manis usia dini), tekanan
berlebihan pada kandung kencing, dan gangguan saraf tulang belakang. Tekanan
yang berlebihan pada kandung kencing terutama disebabkan oleh karena gangguan
pengeluaran kotoran sehingga akumulasi kotoran pada usus besar akan menekan
kandung kencing.
Bagaimana mendiagnosa penyebab ngompol?
Umumnya, wawancara lengkap tentang riwayat keluhan yang dialami pasien dan
pemeriksaan fisik sudah bisa memberikan gambaran tentang penyebab terjadinya
ngompol sekunder. Akan lebih lengkap lagi bila ditambahkan dengan pemeriksaan
urine dan biakan kuman urine. Pada ngompol sekunder kadang diperlukan
pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang lebih lengkap.
Bagaimana mengobati ngompol sekunder?
Pengobatan ngompol sekunder sangat tergantung dari penyebab yang mendasarinya.
Dengan diobatinya penyakit yang mendasari maka diharapkan gangguan ngompol
tidak akan terjadi lagi. Keberhasilan dari pengobatan ini tergantung dari
keberhasilan dalam menemukan dan mengobati penyakit yang mendasari tersebut.
9.
Anak yang Kesulitan Belajar
PENGERTIAN MASALAH
Karena masalah anak yang lamban belajar berbeda-beda, maka sulit untuk
menetapkan secara akurat masalah mereka yang sebenarnya, bahkan juga belum ada
data angka yang tepat dari hasil terapi bagi anak yang lamban belajar.
Sebenarnya, masalah ini sangat menarik perhatian para ahli dari berbagai
bidang, misalnya para pendidik, psikiater, ahli saraf, dokter anak, dokter
spesialis mata dan telinga, juga ahli bahasa. Mereka setelah melihat masalah
ini dari sudut pandang yang berbeda-beda, akhirnya secara umum dapat
disimpulkan ada dua faktor penyebab anak mengalami kesulitan belajar, yaitu
faktor penyakit dan faktor perilaku.
Dari sudut pandang kedokteran, kelambanan anak dalam belajar dianggap
berhubungan erat dengan ketidaknormalan dalam otak. Oleh sebab itu, mereka
menjelaskan adanya luka pada otak, kurang darah, dan ketidaknormalan dalam
saraf sebagai unsur penyebab kelambanan belajar. Dari sudut pandang ahli
psikologi, mereka berusaha menyelidiki masalah dari perilaku dan kejiwaan anak
yang lamban. Mereka menjelaskan adanya gangguan dalam masalah kognitif, yaitu
membaca, menghitung, dan berbahasa.
PERNYATAAN MASALAH
Departemen Pendidikan Amerika Serikat bagian anak cacat telah menjelaskan
standar penentuan bagi anak yang lamban belajar dalam hal penyampaian secara
lisan, pengertian secara lisan, penyampaian tertulis, teknik membaca,
pengertian membaca, penghitungan matematika, serta kemampuan berpikir logis.
Dengan angka IQ, dibedakanlah derajat kelambanan belajar. Bila tidak mencapai
nilai standar normal, seorang anak akan dipandang mengalami kelambanan dalam
belajar. Tes IQ sendiri telah digunakan secara luas sejak dulu. Meski
akhir-akhir ini para ahli mulai meragukan apakah cara penilaian ini dapat
dipercaya, namun pada umumnya tingkat kelambanan dalam belajar seorang anak
sesuai dengan hasil tes IQ.
Dari sisi pelajaran dan pertumbuhan jasmani hambatan belajar dapat diselidiki.
1. Segi pelajaran
Dalam segi pelajaran, hambatan bagi anak dapat dilihat dari kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung. Pada umumnya bila terdapat perbedaan yang signifikan
antara kemampuan belajar dengan hasil pelajaran, dapat disimpulkan anak
tersebut mengalami kelambanan belajar.
2. Segi pertumbuhan fisik
Hal ini meliputi beberapa hal: berbicara, berpikir, mengingat, dan hambatan
fungsi indra. Hambatan berbicara merupakan hambatan belajar yang sering terdapat
pada tingkat anak prasekolah, dan umumnya mengakibatkan anak terlambat bicara.
Sedangkan masalah hambatan dalam berpikir terlihat dari anak yang mengalami
kesulitan dalam membentuk konsep, mengaitkan apa yang dipikirkan, dan
memecahkan masalahnya. Seorang anak yang memiliki hambatan dalam mengingat akan
kesulitan mengingat apa yang telah ia lihat dan ia dengar, padahal daya ingat
merupakan syarat utama untuk belajar. Anak juga tidak mampu memusatkan pikiran
pada sesuatu yang harus dipilihnya, ia hanya berlari terus ke sana ke mari, dan
tidak memiliki konsentrasi belajar dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan
hambatan fungsi indra termasuk hambatan dalam penglihatan dan pendengaran.
PENYEBAB MASALAH
1. Faktor keturunan
Di Swedia, Hallgren (1950) melakukan penelitian dengan objek keluarga dan
menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam
membaca, menulis, dan mengeja. Kesimpulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh
faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann (1959), mempelajari dan membandingkan
anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan
bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal
kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur.
2. Fungsi otak kurang normal
Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami masalah
pada saraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit.
Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak
yang lamban belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban
belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para
ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli
saraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai “disfungsi otak”
ketimbang “cedera otak”. Sebenarnya, sangatlah sulit untuk memastikan bahwa
keadaan itu disebabkan oleh cedera otak.
3. Masalah organisasi
berpikir
Anak yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan
tentang dunia luas. Mereka tidak mampu berpikir secara normal. Misalnya, anak
yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang
dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang,
dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.
4. Kekurangan gizi
Berdasarkan penelitian terhadap anak dan binatang, ditarik suatu kesimpulan
bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi.
Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan
bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu
akan memengaruhi perkembangan saraf utamanya, dan tentunya membawa dampak yang
kurang baik dalam proses belajar.
5. Faktor lingkungan
Pengaruh lingkungan, gangguan nalar, dan emosi, ketiganya mempunyai ciri khas
yang sama, yaitu dapat mengakibatkan kesulitan belajar. Yang dimaksud dengan
faktor lingkungan ialah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat mengganggu
perkembangan mental anak, misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan
lain-lain. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga,
dan kesalahan dalam menangani anak. Meskipun faktor ini dapat memengaruhi,
tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya hambatan. Yang
pasti, faktor tersebut bisa mengganggu ingatan dan daya konsentrasinya. Dan
dari pengalaman dapat dipetik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak
menguntungkan sedikit banyak bisa memengaruhi kecepatan belajar.
PENYELESAIAN MASALAH
1. Pemeliharaan sejak dini
Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam
berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan
lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk
pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda
dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus
serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes
IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan
pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan
belajar.
2. Pengembangan secara
keseluruhan
Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan
perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan
apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan
kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang
sehat.
3. Lembaga pendidikan khusus
atau umum
Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong,
anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus
atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena
adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan
adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil
belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di
lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga
pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh
teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih
tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang
lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi
bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.
4. Memberikan pelajaran
tambahan
Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan
belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer.
Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan
yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa
penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini
komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Gereja atau sekolah dapat
menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar.
5. Latihan indra
Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan
intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan
indra kepada mereka.
6. Prinsip belajar
Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya
memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.
7. Dukungan orang tua
Dorongan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang
lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orang tua bekerja
sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan
diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, ibu boleh meminta izin
untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah. Ikutilah seminar-seminar
mengenai anak yang lamban belajar untuk menambah wawasan Anda.
1.
1. Latihan indra
Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan,
pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk
atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau
halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.
2. Latihan koordinasi
Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai,
meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut
kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai
atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan
sebagainya.
3. Latihan konsentrasi
Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang
ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu,
atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.
4. Latihan keseimbangan
Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih
gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan
titian, senam irama, dan sebagainya.
1.
1. Usahakan agar anak lebih
banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang
berulang-ulang.
2. Dorong anak untuk mencari
tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian,
anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
3. Beri dukungan moril atas
setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah
kepada anak.
4. d. Perhatikan taraf
kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak
mengalami kegagalan.
5. Lakukan latihan secara
sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
6. Boleh memberikan
pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
7. Jangan merencanakan
pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
8. h. Gunakan teknik bahasa
yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
9. Lingkungan belajar yang
sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat
duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.
10.Gagap
Pada Anak, Tips Untuk Orang Tua
Apakah gagap itu? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Anak usia
2 sampai 5 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat
yang diucapkan kepadanya. Ia kadang-kadang juga mengucapkan ungkapan-ungkapan
seperti “ee” atau “mm” saat ia berbicara. Hal ini dianggap normal bila
terjadi pada anak yang masih belajar berbicara.
Anak pada golongan usia tersebut masih mempelajari cara berbicara,
mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata
baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara
bertanya serta mempelajari “akibat” dari kata-kata yang mereka ucapkan. Oleh
karena itu, anak pada golongan usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan
kelancaran berbicara.
Apakah
Penyebab Gagap?
Banyak orang tua yang merasa bahwa gagap disebabkan oleh cara mendidik anak
atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Tetapi menurut para ahli, gagap
tidak disebabkan oleh perilaku orang tua. Kenyataannya, penyebab gagap sampai
saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan
yang sangat rumit dan banyak berkaitan dengan hal-hal lain.
Anak laki-laki lebih banyak mengalami gagap dari pada anak perempuan dengan
perbandingan tiga banding satu. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor
lingkungan, seperti stres.
Tanda-Tanda Awal
Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat
anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang
tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang
umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran
merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak
berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran
berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul.
Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila
kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun.
Anak Usia Sekolah
Saat anak mulai memasuki usia sekolah, kemampuan dan keterampilan berbicaranya
akan semakin terasah. Umumnya anak akan semakin lanca berbicara dan ia sudah
tidak gagap lagi. Jika ia masih gagap, umumnya pada usia tersebut ia sudah
mulai merasa malu akan hal tersebut. Anak seperti ini membutuhkan latihan
khusus untuk membantunya dalam berkomunikasi.
Bantuan
Yang Diperlukan
Seorang anak sebaiknya
mulai mendapat bantuan khusus bila:
- orang tua mulai merasa
khawatir akan kelancaran berbicara anaknya
- anak terlalu sering
mengulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat
- pengulangan suara-suara
seperti “aa” semakin sering diucapkannya
- anak tampak kesulitan
saat akan berbicara
- gangguan kelancaran
berbicaranya semakin berat
- mimik muka anak tampak
tegang saat berbicara
- suara anak terdengar
tegang saat mengucapkan kata-kata bernada tinggi
- anak sering menghindari
keadaan dimana ia harus berbicara
Jika ada tanda-tanda diatas yang tampak saat anak berbicara maka sebaiknya
orang tua mulai menghubungi dokter atau ahli terapi bicara. Semakin dini
bantuan yang diberikan kepada seorang anak maka semakin baik pula hasil yang
akan diperoleh.
1.Attsoederention deficit/ Hiperactivity
disorder (ADHD)
Attetion deficit/ Hiperactivity disorder (ADHA) atau dalam bahasa indonesianya
adalah Gangguan pemusatan perhatian / Hiperaktivity (GPPH).

Menurut Prof.Dr.Wirawan Sarwono seoprang psikolog senior, istilah GPPH
tak dapat dipukul rata .Perlu dibedakan antara penderita GPPH
dengan anak yang nakal, kreatif, ingin tahu, aktif dari
usianya, dan anak yang ber IQ tinggi.
Untuk menentukkan apakah seseorang anak menderita GPPH, harus dipenuhi 6
syarat.Kalau satu saja tidak terpenuhi, maka belum tentu si anak mengalami
ggaguan tersebut.Adapun 6 syarat tersebut:
1. Sering bermain tangan dan
tak bisa duduk diam.
2. Sering meninggalkan tempat
duduk dalam kelasnya atau pada situasi lain yang membutuhkan anak tetap duduk
diam.
3. Berlari atau memanjat
berlebihan pada situasi tidak tepat.
4. Sering mengalami kesulitan
bermain atau terlibat dalam kegiatan yang memerlukan diam
5. Selalu bergerak seperti
dikendalikan suatu motor
6. Selalu bicara berlebihan.
Dulu,GPPH kerap dianggap sebagai kelainan psikologis atau psikiatrik semata
tanpa kelainan biologis atau organic.Namun penelitian terakhir menunjukkan
adanya kelainan di beberapa daerah otak pada anak-anak yang mengalami GPPPH,
berupa ukurannya yang lebih kecil dibanding anak-anak normal.Daerah tersebut
adalah korteks prefrontal, ganglia basalis, dan otak kecil.
Daerah korteks prefrontal berfungsi menentukkan perilaku dan konsentrasi,
ganglia basalis fungsi ini mengurangi respon otomatis dan mengkoordinasi
berbagai input yg diterima oleh korteks otak. Sedang otak kecil, mungkin
berfungsi dalam pengaturan motivasi. Selain itu, GPPH juga bisa dipicu oleh
gangguan dalam metabolisme substansi kimia yg bernama neurotransmitter.Berbagai
faktor diduga menyebabkan kelainan struktur dan neurokimia otak tersebut,
diantaranya faktor genetik, lingkungan, psikososial, dan factor resiko lainnya.
Anak yang karena berbagai faktor lingkungan seperti kekurangan oksigen dalam
rahim atau kelahiran, terauma lahir, infeksi virus intrauterine, meningitis,
trauma kepala, atau kekurangan gizi, juga berpeluang besar menderita gangguan
ini.
Berbagai faktor sosial dapat juga dapat mencetuskan GPPH pada anak.Faktor itu
misalnya tidak mempunyai orang tua, korban perceraian, adanya saudara bersifat
anti sosial atau alkoholik,penyianyian dan penyiksaan.Faktor resiko lainnya
adalah retardasi mental, berat badan lahir rendah, kelainan fisik minor,
gangguan susunan saraf pusat, gangguan penglihatan dan pendengaran, epilepsi,
gejala sisa trauma kepala, penyakit kronik, dan kesulitan tidur.
GPPH harus ditangani sebaik mungkin,sebab 30 hingga 50 persen GPPH terbawa
sampai ke masa remaja dan dewasa.Karena GPPH di sebabkan oleh gangguan
psikologis/psikiatrik dan gangguan biologi/organik.Maka penangannya pun
dilakukan dengan 2 cara yaitu secara medik dan intervansi sosial.
Tindakan medik berupa pemberian obat dilakukkan bila gejala hiperaktivitas
cukup berat, hingga menyebabkan gangguan di sekolah, dirumah, atau hubungan
dengan teman.Pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala dan memudahkan
terapi psikologi.
Beberapa tehnik intervensi itu adalah :
1. Progrresive Delayed
Procedure, yakni anak-anak dengan GPPH dapat dilatih dengan menunda ganjaran.
2. Intervansi secara
sistematis dan terencana oleh guru.Guru tidak menganggap anak GPPH adalah anak
nakal.Guru harus tegas namun dapat memberikan dukungan.Mis: anak sebaiknya
didudukan didepan.
3. Memberikan pilihan
tugas, murid yang menderita GPPH diberikan kebebasan memilih format tugasnya.
4. Peer tutoring, yakni
meningkatkan atau memperbaiki perilaku di kelas dengan bantuan teman-teman
sekelas.
Secara fisik ditemukan perbedaa bermakna dari hasil pemeriksaan otak pada
penderitaan GPPH dengan agak normal.Pada anak hiperaktif, otak karena persen
lebih kecil ketimbang otak kirinya.Sebanyak 35-50 persen kasus anak
penyandang GPPH, pada hasil pemeriksaan gelombang elektro ensefalografi (EEG)
nya menunjukkan ‘abnormalitas’ yaitu berupa peningkatan gelombang lambat yang
spesifik .”Jadi, masalahnya diotak.”
Menurut berbagai penelitian mutakhir, GPPH jelas merupakan gangguan biologis,
jadi bukan gangguan psikologik semata, yaitu adanya defisiensi atau
kekurangan kepekaan terhadap penguat (reinforcement) atau faktor motivasional.
2.Diseleksia
“ Kesulitan membaca bukan pertanda anak bodoh.Mungkin ia membutuhkan
cara belajar yang tepat.”
Kesulitan membaca (Diseleksia) adalah adanya hambatan dalam perkembangan
kemampuan membaca pada seseorang namun, penyebabnya bukanlah tingkat kecerdasan
yang rendah, gangguan penglihatan/pendengaran , gangguan neurologis ataupun
kurangnya kesempatan berlatih.
Seperti pada kesulitan berhitung(Diskalkulia), kesulitan menulis ekspresif
(disgrafia), masalah penyandang diseleksia adalah pemrosesan di dalam
otaknya.Tak heran seringkali ada perbedaan nyata antara nilai IQ mereka dengan
nilai prestasi akademik sekolahnya.
Gangguan ini tampak pada tiga gejala pokok: tidak teliti dalam membaca,
membacanya dengan lambat, dan pemahaman yang buruk dalam membaca.
Kesulitan membaca itu bisa muncul dalam berbagai bentuk ada yang bisa mengeja
tapi tidak mampu membaca dalam kata, misalnya putih dibaca putu, kaki dibaca
kika.Ada juga yang membacanya terbalik, topi dibaca ipot, minum dibaca
munin.Sulit membedakan huruf b dan d, q dan p, khususnya akibatnya,
mereka dapak untuk bapak.Diluar aspek bahasa, pada anak diseleksia seringkali
terdapat gangguan perkembangan lain.Misalnya, konsentrasi yang buruk, kontrol
diri kurang, dan clumsy contoh konkretnya, terkadang anak mengalami kesulitan
melempar tangkap bola atau mengikat tali sepatu.
Bila tak segera mendapat penanganan yang baik, kesulitan belajar bisa
memberikan dampak negatif bagi anak.Label bodoh, ceroboh bisa membuat mereka
terganggu secara emosional.Gangguan ini bisa mempengaruhi keadaan anak
selanjutnya.
Penelusuran penyebab kesulitan belajar itu sendiri, menurut Dr.Ika Widyawati,
pengajar bagian psikatri FKUI, dapat dilakukkan lewat beberapa
pemeriksaan.Pemeriksaan fisik untuk memeriksa kemungkinan adanaya kelainan
organis pada anak, pemeriksaan psikiatrik dan psikososial untuk melihat konflik
kejiwaan, hubungan sosial atau cara pendidikan yang salah, dan pemeriksaan
psikometrik untuk mengetahui taraf kecerdasan serta potensi anak.
Dari hasil pemeriksaan itu, pada anak dapat dilakukkan pengobatan di bidang
edukatif.Diantaranya lewat pendidikan remedial oleh tenaga
professional.Penanganan itu dapat dikombinasikan dengan psikoterapi, terapi
obat, psikososial, terapi wicara, dan terapi okupasi untuk melatih ketrampilan
motorik halusnya.
Tips membantu anak mengatasi Diseleksia:
1. Jangan memberikan stigma
negatif seperti bodoh, bego, pemalas, pengacau.
2. Jangan membanding-bandingkan
dengan orang lain.
3. Jangan member
tekanan berlebihan sehingga ia akan merasa takut gagal atau mengecewakan.
4. Jangan (tanpa
kesadarannya) menyuruh membaca keras-keras agar terdengar orang lain.
5. Gunakan (kalau perlu) alat
penunjuk/ penanda baca agar penglihatannya mengikuti alur membacanya.
6. Sebaiknya ketrampilan
tangan mereka dilatih dengan melempar tangkap bola, memainkan wayang, bermain
dengan bulir-bulir.
7. Berikan lingkungan yang
kondusif serta guru yang kompeten.
3.Gangguan artikulasi
Anak-anak yang bicaranya tak jelas atau sulit ditangkap dalam istilah
psikologi/psikiatri disebut mengalami gangguan artikulasi atau fonologis. Namun
gangguan ini wajar terjadi karena tergolong gangguan perkemb`ngan. Dengan
bertambah usia, diharapkan gangguan ini bisa diatasi.
Kendati begitu, gangguan ini ada yang ringan dan berat. Yang ringan, saat usia
3 tahun si kecil belum bisa menyebut bunyi L, R, atau S. Hingga, kata mobil
disebut mobing atau lari dibilang lali. “Biasanya gangguan ini akan hilang
dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan
menggunakan bahasa yang baik dan benar,” jelas Dra. Mayke S. Tedjasaputra.
Hanya saja, untuk anak yang tergolong “pemberontak” atau negativistiknya kuat,
umumnya enggan dikoreksi. Sebaiknya kita tak memaksa meski tetap memberitahu
yang benar dengan mengulang kata yang dia ucapkan. Misal, “Ma, yuk, kita
lali-lali!”, segera timpali, “Oh, maksud Adik, lari-lari.”
Yang tergolong berat, anak menghilangkan huruf tertentu atau mengganti huruf
dan suku kata. Misal, toko jadi toto atau stasiun jadi tatun. “Pengucapan
semacam ini, kan, jadi sulit ditangkap orang lain,” ujar pengajar di Fakultas
Psikologi UI dan konsultan psikologi di LPT UI ini.
PENYEBAB
Gangguan fonologis bisa dikarenakan faktor usia yang mengakibatkan alat bicara
atau otot-otot yang digunakan untuk berbicara (speech motor) belum lengkap atau
belum berkembang sempurna; dari susunan gigi geligi, bentuk rahang, sampai
lidah yang mungkin masih kaku. Beberapa kasus gangguan ini malah berkaitan
dengan keterbelakangan mental. Anak yang kecerdasannya tak begitu baik,
perkembangan bicaranya umumnya juga akan terganggu. Bila gangguan neurologis
yang jadi penyebab, berarti ada fungsi susunan saraf yang mengalami gangguan.
Sebab lain, gangguan pendengaran. Bila anak tak bisa mendengar dengan jelas,
otomatis perkembangan bicaranya terganggu. Tak kalah penting, faktor
lingkungan, terutama bila anak tidak/kurang dilatih berbicara secara benar.
TERAPI BICARA
Bila penyebabnya kurang latihan atau stimulasi, akan lebih mudah dan relatif
lebih cepat penyembuhannya asal mendapat penanganan yang baik. Namun bila
dikarenakan gangguan neurologis, perlu dikonsultasikan ke ahli neurologi.
Sementara jika berhubungan dengan keterbelakangan mental, biasanya relatif lebih
sulit karena tergantung tingkat keterbelakangan mentalnya. “Kalau masuk
kategori terbelakang sedang, pengucapan kata-kata anak biasanya juga sulit
ditangkap. Akan tetapi dengan pemberian terapi bicara, pengucapannya bisa agak
jelas, meski ada juga beberapa yang masih sulit dicerna oleh orang yang
mendengarkannya,” jelas Mayke.
Yang jelas, jika gangguannya masuk dalam taraf sulit, dianjurkan membawa anak
berkonsultasi. Kriteria sulit: bila sudah mengganggu komunikasi atau kontak
dengan orang lain, bahkan orang serumah pun tak mengerti apa yang dimaksudnya.
Bila sudah ber”sekolah”, gangguan ini bisa mempengaruhi prestasi. Misal, harus
bernyanyi di depan kelas, tapi karena belum fasih membuatnya tak berani tampil.
Jikapun berani, pengucapannya yang tak jelas akan memancing teman-teman
mengolok-oloknya.
Dibutuhkan bantuan ahli terapi bicara untuk mengatasinya. Biasanya terapis akan
menelaah kembali apakah si kecil mengalami gangguan speech motor. Gangguan
speech motor ada yang bisa dilatih seperti halnya meniup lilin. Tak jarang
perlu pula bantuan ahli THT untuk mengoreksi adanya gangguan pada organ-organ
yang berhubungan dengan bicara yang berada di daerah mulut. Mungkin ada anak
yang lidahnya tak terbentuk dengan baik, hingga terlalu pendek dan mempengaruhi
kemampuan bicaranya. Cacat bawaan seperti sumbing juga bisa berpengaruh pada
cara bicaranya, tapi gangguan ini bisa diatasi dengan operasi dan terapi
bicara.
BAWA BERKONSULTASI
Anak yang mengalami gangguan fonologis kriteria sedang hingga berat, biasanya
terlambat pula perkembangan bicaranya. Misal, baru bisa bicara di usia 3 tahun,
atau usia 2,5 tahun baru bisa menyebut Mama/Papa. Kemungkinan lain, meski sudah
2 tahun tapi kemampuan bicaranya masih tahap bubbling alias tanpa arti, seperti
“ma…mapa…pa”. Namun bahasa resetif atau penerimaannya cukup baik, hingga bila
ia disuruh atau diajak bicara akan mengerti.
Yang seperti ini pun, saran Mayke, sebaiknya dibawa berkonsultasi karena bila
dibiarkan berlanjut, kemungkinan anak akan mengalami gangguan fonologis lebih
parah. Itu sebab, bila sejak usia 10 bulan atau setahun, anak mulai dapat
menyebut “Mama/Papa”, tapi selepas 2 dua tahun tak bertambah, kita harus curiga
dan cepat minta bantuan ahli. Terlebih bila kita sudah cukup banyak memberi
stimulasi atau rangsangan. Bisa dengan membawanya ke psikolog/psikiater lebih
dulu untuk mengetahui apakah ia mengalami gangguan fonologis karena
keterbelakangan mental, gangguan neurologis, atau sebab lain.
Bila masalahnya menyangkut gangguan yang tak bisa dit`ngani psikolog, sebaiknya
anak dirujuk ke ahli lain, seperti neurolog atau ahli terapi bicara. Para ahli
terapi bicara bisa ditemui di berbagai institusi yang melakukan terapi untuk
anak autis atau anak yang mengalami gangguan perhatian. Mereka biasanya juga
menangani anak yang mengalami gangguan bicara. Sedangkan lama penanganan
tergantung beberapa hal. Seperti berat-ringan gangguan, upaya/kesediaan orang
tua untuk mengantar anaknya terapi secara teratur maupun melatihnya di rumah,
serta kerjasama dari anak. Jadi, saran Mayke, kita jangan segan-segan
menanyakan pada terapis apa yang perlu dilakukan di rumah untuk menangani anak.
Harusnya terapis-terapis pun cukup terbuka untuk memberi saran atau masukan
seperti itu.
Keahlian terapis juga mempengaruhi tenggang waktu yang dibutuhkan untuk
menangani gangguan anak. Begitu pula penguasaan/pendalaman terhadap
masing-masing bentuk gangguan, tingkat kesulitan, dan cara penanganan yang
tepat untuk tiap gangguan tadi. Selain, terapis juga harus bisa membina
hubungan baik dengan anak, hingga anak merasa senang mengikuti program
tersebut. Sebaliknya, akan jadi kendala bila si terapis kaku dan tak bisa
membujuk anak
Sumber : tabloid nakita (KG Group)
4.Autisme
AUTISME atau disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD),
hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini
sudah ada beberapa langkah tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki
kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara.
Tanda – tanda Autisme
- - tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa
sehari-hari
- - hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
- - mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
- - tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang
lain
- - hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu
saja yang dia mainkan)
- - serasa dia punya dunianya sendiri
- - tidak suka berbicara dengan orang lain
- - tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain
Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme :
1. Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal
adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya
kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di
negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang …
2. Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya
interaksi antara anak – orang tua semakin berkurang karena berbagai hal.
Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata
ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang
menjadi jarang bersosialisasi karenanya.
Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada
perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata
adalah kasus pada negara terpencil Bhutan – begitu mereka mengizinkan TV di
negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis.
Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih
polos. Hiperaktif ? ADHD ? Autisme ? Sebuah penelitian akhirnya kini
telah mengakui kemungkinan tersebut.
1. Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab
autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada
anak-anaknya.
Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental
sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan
hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.
Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.
Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna,
dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika
zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang
kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.
Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun
1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation,
dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba
diasingkan oleh AMA,
dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana.
Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi
bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern.
1. Radiasi pada janin bayi :
Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi
kidal.
Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga
berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang
tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG – hindari jika tidak
perlu.
2. Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita
hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata,
tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.
Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini,
yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic
acid – namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil
diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).
Atau yang lebih baik – perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid,
karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping
:
Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects
1. Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada
beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre
school) dapat memicu reaksi autisme.
Diperkirakan,
bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada
dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan
asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi
mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.
Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi
bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka
mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri.
Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir
lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan
bahagia.
Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang
akan ditemukan di masa depan, sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di
bidang ini.
Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena
umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan
orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya
hingga usia empat tahun.
Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga
tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya.
Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus
dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.
Nah, kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita
autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota
keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan
hal itu.
Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa
keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan
melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi
penderita autis, baik itu terapi perilaku – ABA, terapi sensori integrasi,
terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT,
Dolphin Assisted Therapy.
“Terapi perilaku – ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak
autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah
bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau
melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka,” kata dr
Irawan dalam seminar yang diselenggarakan di Kantor Pusat Sun Hope Indonesia,
belum lama ini.
Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis
otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu,
terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain
itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang
mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.
Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya
langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang
autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa
anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.
Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua
perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti
makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip,
dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.
“Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang
mengandung casein (protein susu) dan gluten
(protein tepung),”
Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien
autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose
intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi
antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope
probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).
“Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat
dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak
tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna
dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material
tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal
tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif,” jelasnya panjang lebar.
Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu
meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3
5.GANGGUAN PENCERNAAN, PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN PADA ANAK
Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau
pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang
merawat anaknya. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami
oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak
yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering
membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya.
Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6
tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar
79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan
Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa.
Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak.
Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin
tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi
berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti
vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi
bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi
tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.
Dengan penanganan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat
mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak
Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya.
Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah
dewasa nantinya.
GEJALA SUATU PENYAKIT
Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala
atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada
tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak
untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan
jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai
dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap
dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat
tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap,
menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau
menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan
berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan
makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau
menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak
variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.
PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN
Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi
organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat
berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi
didapat dalam usia anak.
Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor,
diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan
pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi
sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah
hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor
psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai
ditinggalkan atau sangat jarang.
Pengaruh hilang atau berkurangnya nafsu makan tampaknya merupakan penyebab
utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai
dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan).
Tampilan gangguan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum
ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan sering sisa atau
hanya sedikit atau mengeluarkan dan menyembur-nyemburkan makanan di mulut.
Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya atau
tidak mau makan dan minum sama sekali. Berkurang atau hilangnya nafsu makan ini
sering diakibatkan karena gangguan fungsi saluran cerna.
Gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada
gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah
perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering muntah atau
seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila
menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah. Sering nyeri perut
sesasaat, bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”,
tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering
(>2 kali/perhari). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras,
bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok,
pernah ada riwayat berak darah. Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik,
tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain
tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah
banyak atau mulut berbau
Gangguan saluran cerna biasanya disertai kulit yang sensitif. Sering timbul
bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat,
kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Saat
bayi sering timbul gangguan kulit di pipi, sekitar mulut, sekitar daerah popok
dan sebagainya.
Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi
pada banyak anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut
merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan
dengan kesulitan makan pada anak.
GANGGUAN PROSES MAKAN DI MULUT
Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan
menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di
sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik
tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan
oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di
sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa gangguan
mengunyah makanan.
Tampilan klinis gangguan mengunyah adalah keterlambatan makanan kasar tidak
bisa makan nasi tim saat usia 9 bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1 tahun,
tidak bisa makan daging sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Bila
anak sedang muntah dan akan terlihat tumpahannya terdapat bentukan nasi yang
masih utuh. Hal ini menunjukkan bahwa proses mengunyah nasi tersebut tidak
sempurna. Tetapi kemampuan untuk makan bahan makanan yang keras seperti krupuk
atau biskuit tidak terganggu, karena hanya memerlukan beberapa kunyahan.
Gangguan koordinasi motorik mulut ini juga mengakibatkani kejadian tergigit
sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja.
Kelainan lain yang berkaitan dengan koordinasi motorik mulut adalah keterlambatan
bicara dan gangguan bicara (cedal, gagap, bicara terlalu cepat sehingga sulit
dimengerti). Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan
keseimbangan dan motorik kasar lainnya seperti tidak mengalami proses
perkembangan normal duduk, merangkak dan berdiri. Sehingga terlambat
bolak-balik (normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan)
atau tidak merangkak tetapi langsung berjalan, keterlambatan kemampuan mengayuh
sepeda (normal usia 2,5 tahun), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”. Bila
berjalan selalu cepat, terburu-buru seperti berlari, sering jatuh atau
menabrak, sehingga sering terlambat berjalan. Ciri lainnya biasanya disertai
gejala anak tidak bisa diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif. Mudah marah
serta sulit berkonsentrasi, gampang bosan dan selalu terburu-buru.
Gangguan saluran pencernaan tampaknya merupakan faktor penyebab terpenting
dalam gangguan proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan
teori ”Gut Brain Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan
saluran cerna maka mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak. Gangguan
fungsi susunan saraf pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan
neurofungsional. Salah satu manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan
koordinasi motorik kasar mulut.
Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ
tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.Diantaranya adalah
kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok
terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia,
trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi,
kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam
kandungan.
Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan
terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan
bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis,
poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan
bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan
perilaku dan perkembangan lainnya.
GANGGUAN PSIKOLOGIS
Gangguan psikologis dahulu dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan
pada anak. Tampaknya hal ini terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam
menemukan penyebab kesulitan makan pada anak maka gangguan psikologis dianggap
sebagai diagnosis keranjang sampah untuk mencari penyebab kesulitan makan pada
anak. Untuk memastikan gangguan psikologis sebagai penyebab utama kesulitan
makan pada anak harus dipastikan tidak adanya kelainan organik pada anak.
Kemungkinan lain yang sering terjadi, gangguan psikologis memperberat masalah
kesulitan makan yang memang sudah terjadi sebelumnya.
Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu
waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor
psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik.
Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari
dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya
mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.
Pakar psikologis menyebutkan sebab meliputi gangguan sikap negatifisme, menarik
perhatian, ketidak bahagian atau perasaan lain pada anak, kebiasaan rewel pada
anak digunakan sebagai upaya untuk mendapatkan yang sangat diinginkannya,
sedang tertarik permainan atau benda lainya, meniru pola makan orang tua atau
saudaranya reaksi anak yang manja.
Beberapa aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan
orang tua, antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya
dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang
tua yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik
atau suasana keluarga yang penuh pertentangan, permusuhan atau emosi yang
tinggi akan mengakibatkan anak mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia,
sedih atau depresi. Hal itu mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga
bisa membuat anak menarik diri dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk
aktifitas makannya
Sikap orang tua dalam hubungannya dengan anak sangat menentukan untuk
terjadinya gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan gangguan makan.
Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : perlindungan dan perhatian
berlebihan pada anak, orang tua yang pemarah, stress dan tegang terus menerus,
kurangnya kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, urangnya pengertian
dan pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak, hubungan antara orang
tua yang tidak harmonis, sering ada pertengkaran dan permusuhan.
KOMPLIKASI KESULITAN MAKAN
Peristiwa kesulitan makan yang terjadi pada penderita Autis biasanya
berlangsung lama. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi
seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral dan anemia (kurang darah).
Defisiensi zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan
metabolisme dan gangguan fungsi tubuh lainnya yang terjadi pada penderita
Autis. Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan
terapi yang sudah dilakukan selama ini.
Kekurangan kalori dan protein yang terjadi tentunya akan mengakibatkan gangguan
pertumbuhan pada penderita Autis. Tampilan klinis yang dapat dilihat adalah
kegagalan dalam peningkatan berat badan atau tinggi badan. Dalam keadaan normal
anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat badan 2 kilogram
dalam setahun. Pada penderita kesulitan makan sering terjadi kenaikkan berat
badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderunagn tetap dalam keadaan yang
cukup lama.
PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK
Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada
anak yang harus dilakukan adalah : (1). Pastikan apakah betul anak mengalami
kesulitan makan Cari penyebab kesulitan makanan pada anak, (2). Identifikasi
adakah komplikasi yang terjadi, (3) Pemberian pengobatan terhadap penyebab,
(4). Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau
coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
Gangguan fungsi pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling
penting dalam kesulitan makan. Gangguan fungsi saluran cerna kronis yang terjadi
seperti alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan sebagainya.
Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai penyebab utama
gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan
kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai
diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru. Penelitian yang dilakukan di
Picky Eater Clinic Jakarta menunjukkan, setelah dilakukan penghindaran makanan
tertentu pada 218 anak dengan kesulitan makan dengan gangguan intoleransi
makanan, alergi makanan, penyakit coeliac, Setelah dilakukan penghindaran
makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada
minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan
saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu
pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa
diperbaiki sekitar 30%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring
dengan pertambahan usia.
Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran
yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak
oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan
sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah
ini. Aktifitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan
tertentu juga sering dianjurkan untuk gangguan ini.
Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus
kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk
menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya.
Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan
tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus
berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung
dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa
akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.
Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus
ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan
makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku
makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Kesulitan makan disertai
gangguan fungsi saluran cerna biasanya terjadi jangka panjang, dan sebagian
akan berkurang pada usia tertentu. Gangguan alergi makanan akan membaik setelah
usia setelah usia 5-7 tahun. Tetapi pada kasus penyakit coeliac atau
intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit
yang terjadi hingga dewasa.
6.Depresi
pada anak
Bukanlah hal aneh jika orang dewasa mengalami depresi. Seiring dengan
meningkatnya beban hidup di masa sekarang ini, meningkat pula kecenderungan
orang untuk menjadi depresi. Tapi, bagaimana jika ini terjadi pada anak kecil
yang dianggap belum mempunyai beban hidup? Apakah ada kemungkinan mereka
mengalami depresi? Jawabnya ternyata ADA!
Bagaimana cara mengetahui anak kita mengalami depresi? Apakah kesedihan pada
anak-anak dianggap tidak wajar? Bagaimana cara membedakan kesedihan dengan
depresi pada anak-anak? Semuanya akan dibahas di bawah ini.
Gangguan depresi pada anak sebelumnya tidak terlalu dikenali dan biasanya
dianggap sebagai gangguan mood yang normal pada fase perkembangan. Keraguan ini
disebabkan karena anak dan remaja dianggap belum matang secara psikologis dan
kognitif. Berdasarkan penelitian, anak perempuan memiliki kecenderungan untuk
menderita depresi lebih tinggi daripada anak laki-laki.
Depresi merupakan sekelompok penyakit gangguan alam perasaan dengan dasar
penyebab yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap etiologi
depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah:
1. Faktor genetik
Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat ditentukan, faktor genetik
mempunyai peran terbesar. Gangguan alam perasaan cenderung terdapat dalam suatu
keluarga tertentu. Bila pada suatu keluarga, salah satu orangtua menderita
depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat untuk menderita depresi dan
apabila kedua orangtuanya menderita depresi maka risiko untuk mendapat gangguan
alam perasaan sebelum usia 18 tahun menjadi empat kali lipat.
Pada kembar monozigot, 76% akan mengalami gangguan afektif sedangkan bila
kembar dizigot hanya 19%. Pricer (1968) dan Bertelsen et al (1977) melaporkan
hasil yang hampir sama. Bagaimana proses gen diwariskan, belum diketahui secara
pasti. Bahwa kembar monozigot tidak 100% menunjukkan gangguan afektif,
kemungkinan ada faktor non-genetik yang turut berperan.
2. Faktor Sosial
Dilaporkan bahwa orangtua dengan gangguan afektif cenderung akan selalu
menganiaya atau menelantarkan anaknya dan tidak mengetahui bahwa anaknya
menderita depresi sehingga tidak berusaha untuk mengobatinya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua, jumlah sanak saudara, status
sosial keluarga, perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau
struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan depresi pada anak.
Ibu yang menderita depresi lebih besar pengaruhnya terhadap kemungkinan
gangguan psikopatologi pada anak dibandingkan jika depresi terjadi pada ayah.
Beberapa peneliti melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat
penganiayaan fisik atau seksual dengan depresi, tetapi mekanismenya belum
diketahui secara pasti.
Diyakini bahwa faktor non-genetik seperti faktor fisik maupun lingkungan
merupakan pencetus kemungkinan terjadinya depresi pada anak dengan riwayat
genetik.
3. Faktor Biologis lainnya
Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme gangguan alam perasaan terfokus
pada terganggunya regulator sistem monoamin-neurotransmiter, termasuk
norepinefrin dan serotonin (5-hidroxytriptamine). Hipotesis lain menyatakan
bahwa depresi yang terjadi erat hubungannya dengan perubahan keseimbangan
adrenergik-asetilkolin yang ditandai dengan meningkatnya kolinergik, sementara
dopamin secara fungsional menurun.
Diduga ada kaitan antara depresi dengan adanya gangguan kesehatan lain,
seperti: infeksi virus, anemia, hipotiroid atau hipertiroid, dan epilepsi.
Namun penyebab yang pasti dari depresi ini masih belum dapat dipastikan. Diduga
kombinasi dari kerentanan genetik (biologi), pengalaman perkembangan yang
kurang optimal secara psikologi dan terpapar pada stresor sosial dapat
menyebabkan gangguan ini. 90% gejala depresi pada anak dan remaja didahului
oleh adanya pemicu.
Faktior risiko yang dapat memicu munculnya depresi:
- adanya riwayat depresi pada keluarga
- episode depresi sebelumnya
- konflik keluarga
- kelemahan dalam bidang akademik
- gangguan cemas atau penyalahgunaan zat
Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang
memerah pada penyakit flu, gejala depresi tidaklah terlalu konkret, dan sebagai
konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orangtua. Berikut ini
adalah tanda-tanda depresi:
- Keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit sendi dan otot, sakit perut, dan
rasa lelah
- Sering bolos sekolah atau sikapnya di sekolah tidak baik
- Adanya maksud dan usaha untuk lari dari rumah
- Berteriak tanpa kejelasan, sering menangis atau mengeluh terhadap segala
sesuatu
- Merasa cepat bosan
- Tidak ada minat untuk bermain dengan teman-temannya
- Penggunaan zat atau alkohol
- Tidak mau berkomunikasi dan berteman lagi
- Takut akan kematian
- Sangat sensitif terhadap penolakan dan kegagalan
- Sering menunjukkan rasa marah, bermusuhan, dan sikap yang mudah tersinggung
- Perilaku yang membahayakan dan ceroboh
- Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman atau orang lain
- Konsentrasi yang buruk yang dapat berhubungan dengan nilai sekolahnya
- Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
- Kurangnya antusiasme atau motivasi
- Kelelahan kronis atau kekurangan energi
- Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
- Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat
badan yang terlihat jelas, suka sekali tidur atau sulit tidur)
- Suka lupa
- Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
- Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara
atau mengekspresikan diri)
- Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang
lain, atau dengan tema yang sedih
- Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.
Depresi harus dibedakan dengan kesedihan yang normal dan gangguan psikiatris
lainnya. Sebelum diagnosis psikiatris ditegakkan, kondisi organik yang mirip
ataupun yang menimbulkan gejala-gejala psikiatris harus disingkirkan terlebih
dahulu seperti gangguan organik, intoksikasi zat, ketergantungan dan
abstinensi, distimia, siklotimia, gangguan kepribadian, berkabung, serta
gangguan penyesuaian.
Keadaan seperti ini sangat bervariasi, sehingga pengetahuan tentang
perkembangan anak normal dan penyakit fisik dengan manifestasi psikiatris
sangat diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis yang akurat.
Bagaimana mengobati depresi anak?
Perawatan di rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan indikasi, misalnya
penderita cenderung mau bunuh diri, atau adanya penyalahgunaan atau ketergantungan
obat. Pada umumnya, penderita berhasil ditangani dengan rawat jalan. Sekali
diagnosis depresi berat ditegakkan pada anak, psikoterapi dan medikasi
merupakan terapi yang harus diberikan. Namun, pengobatan selalu bersifat
individual, tergantung pada hasil pertimbangan evaluasi anak dan keluarganya,
termasuk kombinasi terapi individu, terapi keluarga, serta konsultasi dengan
pihak sekolah.
Pengobatan populasi depresi pada umumnya bersifat multi modal, meliputi anak,
orangtua, dan sekolah untuk memperpendek episode depresi. Pada anak yang
mengalami depresi, pengembangan kognitif dan emosi merupakan intervensi
psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda
yang digunakan telah menunjukkan hasil, seperti:
• Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)
• Terapi bermain (play therapy)
• Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)
• Terapi tingkah laku (behavioral therapy)
• Model stres hidup (life stress model)
• Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy)
• Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua (parent
training), terapi keluarga (family training), pendidikan remedial (remedial
education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).
Sedangkan, farmakoterapi yang sering digunakan:
1. Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.
Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan yang berarti
antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini bersifat
kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.
2. Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin: fluoksetin
dan sertralin.
Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada anak dan
remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja karena dapat
ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih sedikit dibandingkan
dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya, sedikit sekali penelitian
tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada anak dan remaja. Dibandingkan
dengan usia dewasa, pada masa remaja cenderung berkembang untuk agitasi atau
menjadi mania bila mereka mendapat SSRIs (Selective Serotinine Reuptake
Inhibitors). Obat ini juga dapat menurunkan libido.
3. Litium karbonat
Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami
agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih berguna pada
kasus yang berisiko menjadi bipolar.
Apabila depresi berat tidak diobati dan terus berlangsung dalam kurun waktu
7-12 bulan, maka akan berlanjut menjadi episode depresi berulang (recurrent)
dengan gangguan sosial yang persisten antar dua episode. Semakin muda usia
mulainya depresi, semakin jelek prognosisnya, tetapi erat hubungannya dengan
faktor genetik. Anak yang mengalami depresi berat cenderung untuk menderita
depresi berat berulang dan gangguan bipolar. Kebanyakan yang sembuh dalam
beberapa bulan, kembali relaps 1-2 tahun kemudian.
Jadi, depresi dapat terjadi pada anak sebagaimana orang dewasa dan insidennya
cenderung meningkat sehingga perlu diagnosis dini untuk memperoleh hasil terapi
yang efektif. Psikoterapi yang sesuai dengan perkembangan anak merupakan
pilihan awal sebelum farmakoterapi.
7.Gangguan Saraf Bisa Pengaruhi Proses Persepsi Anak
ADA kalanya gangguan saraf yang dialami anak bisa mempengaruhi proses
persepsi atau pemrosesan informasi anak tersebut, sehingga ia tidak dapat
merasakan adanya perhatian yang diarahkan padanya. Contohnya, ada kasus seorang
bayi yang rewel terus dan restless karena dalam tubuhnya terdapat unsur cocaine
atau zat addictive yang sudah mempengaruhi pertumbuhan struktur saraf otak
sejak masa konsepsi (pembentukan jaringan).
Problem ini bisa disebabkan masalah alkoholisme atau obat-obatan yang biasa
dikonsumsi orangtua sebelum dan selama masa kehamilan; atau karena efek samping
obat-obatan yang harus diminum anak akibat penyakit yang sedang dideritanya.
Dampak problem kelekatan
anak dengan orangtua. Anak-anak yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi
akibat problem kelekatan yang dialami, berpotensi mengalami maralah
intelektual, masalah emosional dan masalah moral dan sosial di kemudian hari.
Masalah intelektual
mempengaruhi kemampuan pikir seperti halnya memahami proses sebab-akibat.
Ketidakstabilan atau ketidakkonsistenan sikap orangtua, mempersulit anak
melihat hubungan sebab-akibat dari perilakunya dengan sikap orangtua yang
diterimanya. Dampaknya akan meluas pada kemampuannya dalam memahami kejadian
atau peristiwa-peristiwa lain yang dialami sehari-hari. Akibatnya, anak jadi
sulit belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.
Kesulitan belajar.
Kurangnya kelekatan dengan orangtua, membuat anak lamban dalam memahami baik
itu instruksi maupun pola-pola yang seharusnya bisa dipelajari dari perlakuan
orangtua terhadapnya atau kebiasaan yang dilihat atau dirasakannya.
Sulit mengendalikan dorongan. Kebutuhan emosional yang tidak perpenuhi, membuat
anak sulit menemukan kepuasan atas situasi atau perlakuan yang diterimanya,
meski bersifat positif. Ia akan terdorong untuk selalu mencari dan mendapatkan
perhatian orang lain. Untuk itu, ia berusaha sekuat tenaga, dengan caranya
sendiri untuk mendapatkan jaminan bahwa dirinya bisa mendapatkan apa yang
diinginkan.
Menurut sebuah hasil penelitian, problem kelekatan yang dialami anak sejak usia
dini, dapat mempengaruhi kemampuan bicaranya. Dalam dunia psikologi, hingga
usia 2 tahun dikatakan sebagai masa oral, di mana seorang anak mendapat
kepuasan melalui mulut (menghisap-mengunyah makanan dan minuman). Oleh sebab
itulah proses menyusui menurut para ahli merupakan proses yang amat penting
untuk membangun rasa aman yang didapat dari pelukan dan kehangatan tubuh sang
ibu. Ada kemungkinan anak yang mengalami hambatan pada masa ini akan mengalami
kesulitan atau keterlambatan bicara.
Memang, secara psikologis anak yang merasakan ketidaknyamanan akan kurang
percaya diri dalam mengungkapkan keinginannya. Atau, kurangnya kelekatan
tersebut membuat anak berpikir bahwa orangtua tidak mau memperhatikannya
sehingga ia lebih banyak menahan diri. Akibatnya, anak jadi tidak terbiasa
mengungkapkan diri, berbicara atau mengekspresikan diri lewat kata-katanya.
Ada pula penelitian yang mengatakan, bahwa melalui komunikasi yang hangat
seorang ibu terhadap bayinya, lebih memacu perkembangan kemampuan bicara anak
karena si anak terpacu untuk merespons kata-kata ibunya.
Ada banyak orangtua yang kurang responsif/kurang tanggap terhadap tangisan
bayinya. Mereka takut jika terlalu menuruti tangisan bayinya, kelak ia akan
jadi anak manja dan menjajah orangtua.
Padahal, tangisan seorang bayi adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan adanya
kebutuhan seperti halnya rasa lapar atau haus. Ketidakkonsistenan orangtua
dalam menanggapi kebutuhan fisiologis anak, akan ikut mengacaukan proses
metabolisme dan pola makan anak.
Ketiadaan perhatian orangtua, sering mendorong anak membangun image bahwa
dirinya mandiri dan mampu hidup tanpa bantuan siapa pun. Image itu berusaha
keras ditampilkan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.
Padahal, dalam dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit hati
terhadap orangtua, sementara ia juga menyimpan persepsi yang buruk terhadap
diri sendiri. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak
berharga, sehingga orangtua tidak mau mendekat padanya (dan, memang ia juga
merasa tidak ingin didekati).
8.Masalah
Ngompol Pada Anak
Apa itu ngompol?
Ngompol atau sering juga disebut dengan nokturnal enuresis ialah pengeluaran
urine yang tidak disadari pada saat tidur. Terkadang definisi ngompol juga
digunakan untuk menyebut anak anak yang gagal mengontrol pengeluaran urine saat
mereka terjaga.
Apa saja jenis ngompol ?
Menurut terjadinya, ngompol dapat dibagi dua yaitu :
Enuresis/Ngompol Primer – ngompol yang terjadi sejak bayi dan
Enuresis/Ngompol Sekunder – ngompol yang kembali terjadi setelah sang anak
tidak pernah ngompol lagi minimal 6 bulan.
Apakah ngompol primer itu?
Ngompol primer terjadi diduga akibat dari keterlambatan proses pematangan
sistem saraf pada anak anak. Pada usia 5 tahun, kurang lebih 20% dari anak anak
akan ngompol sekali dalam sebulan. Dari jumlah itu, 5% dari anak laki laki dan
1% dari anak perempuan akan ngompol pada malam hari. Memasuki usia 6 tahun,
prosentase anak yang ngompol akan berkurang menjadi 10% dan sebagian besar
adalah anak laki laki. Prosentase anak yang ngompol setiap tahun akan terus
berkurang menjadi setengahnya setelah sang anak melewati usia 5 tahun. Ada pula
ahli yang menghubungkan riwayat keluarga dengan ngompol primer ini. Jika salah
satu dari orang tuanya mempunyai kebiasaan ngompol maka kemungkinan 45% anaknya
akan mempunyai kebiasaan yang sama.
Apa yang menjadi masalah utama dari ngompol primer?
Masalah utama yang dihadapi oleh anak anak pengompol primer adalah
ketidakmampuan otak untuk menangkap sinyal yang dikirimkan oleh kandung kencing
yang sudah penuh saat sang anak terlelap. Kenyataannya, kapasitas kandung
kencing pada anak pengompol lebih kecil daripada anak anak yang normal.
Apakah ngompol primer ada hubungannya dengan masalah emosional?
Beberapa orang tua mempercayai bahwa kebiasaan ngompol primer yang terjadi pada
anak anak mereka disebabkan oleh karena faktor emosional. Namun tidak ada
penelitian di bidang kedokteran yang mampu membuktikan pernyataan ini.
Bagaimana mengatasi ngompol primer?
Cara mengatasi ngompol primer sangat berhubungan dengan waktu. Kesabaran dan
peran serta orang tua sangat diharapkan. Namun tidak sedikit dari mereka yang
frustasi dengan lamanya sang anak mengalami ngompol primer dan mencoba
melakukan berbagai cara untuk mengatasinya termasuk dengan memberikan
penghargaan atau hadiah bila sang anak tidak ngompol. Ternyata tindakan ini
cukup berhasil dalam mengatasi ngompol primer. Tujuh puluh lima persen dari
anak pengompol primer mengalami kemajuan yang berarti dengan cara ini. Orang
tua yang selalu memotivasi anaknya untuk mengontrol kebiasaan ngompol sangat
berpengaruh terhadap kemampuan sang anak dalam mengendalikan pengeluaran urine.
Seberapa sering kejadian ngompol sekunder?
Hanya sekitar 2%-3% dari anak pengompol yang kebiasaan ngompolnya disebabkan
oleh karena faktor penyakit. Faktor inilah yang menjadi penyebab utama
terjadinya ngompol sekunder.
Penyakit apa saja yang menyebabkan ngompol sekunder?
Infeksi saluran kemih, gangguan metabolisme (kencing manis usia dini), tekanan
berlebihan pada kandung kencing, dan gangguan saraf tulang belakang. Tekanan
yang berlebihan pada kandung kencing terutama disebabkan oleh karena gangguan
pengeluaran kotoran sehingga akumulasi kotoran pada usus besar akan menekan
kandung kencing.
Bagaimana mendiagnosa penyebab ngompol?
Umumnya, wawancara lengkap tentang riwayat keluhan yang dialami pasien dan
pemeriksaan fisik sudah bisa memberikan gambaran tentang penyebab terjadinya
ngompol sekunder. Akan lebih lengkap lagi bila ditambahkan dengan pemeriksaan
urine dan biakan kuman urine. Pada ngompol sekunder kadang diperlukan
pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang lebih lengkap.
Bagaimana mengobati ngompol sekunder?
Pengobatan ngompol sekunder sangat tergantung dari penyebab yang mendasarinya.
Dengan diobatinya penyakit yang mendasari maka diharapkan gangguan ngompol
tidak akan terjadi lagi. Keberhasilan dari pengobatan ini tergantung dari
keberhasilan dalam menemukan dan mengobati penyakit yang mendasari tersebut.
9.
Anak yang Kesulitan Belajar
PENGERTIAN MASALAH
Karena masalah anak yang lamban belajar berbeda-beda, maka sulit untuk
menetapkan secara akurat masalah mereka yang sebenarnya, bahkan juga belum ada
data angka yang tepat dari hasil terapi bagi anak yang lamban belajar.
Sebenarnya, masalah ini sangat menarik perhatian para ahli dari berbagai
bidang, misalnya para pendidik, psikiater, ahli saraf, dokter anak, dokter
spesialis mata dan telinga, juga ahli bahasa. Mereka setelah melihat masalah
ini dari sudut pandang yang berbeda-beda, akhirnya secara umum dapat
disimpulkan ada dua faktor penyebab anak mengalami kesulitan belajar, yaitu
faktor penyakit dan faktor perilaku.
Dari sudut pandang kedokteran, kelambanan anak dalam belajar dianggap
berhubungan erat dengan ketidaknormalan dalam otak. Oleh sebab itu, mereka
menjelaskan adanya luka pada otak, kurang darah, dan ketidaknormalan dalam
saraf sebagai unsur penyebab kelambanan belajar. Dari sudut pandang ahli
psikologi, mereka berusaha menyelidiki masalah dari perilaku dan kejiwaan anak
yang lamban. Mereka menjelaskan adanya gangguan dalam masalah kognitif, yaitu
membaca, menghitung, dan berbahasa.
PERNYATAAN MASALAH
Departemen Pendidikan Amerika Serikat bagian anak cacat telah menjelaskan
standar penentuan bagi anak yang lamban belajar dalam hal penyampaian secara
lisan, pengertian secara lisan, penyampaian tertulis, teknik membaca,
pengertian membaca, penghitungan matematika, serta kemampuan berpikir logis.
Dengan angka IQ, dibedakanlah derajat kelambanan belajar. Bila tidak mencapai
nilai standar normal, seorang anak akan dipandang mengalami kelambanan dalam
belajar. Tes IQ sendiri telah digunakan secara luas sejak dulu. Meski
akhir-akhir ini para ahli mulai meragukan apakah cara penilaian ini dapat
dipercaya, namun pada umumnya tingkat kelambanan dalam belajar seorang anak
sesuai dengan hasil tes IQ.
Dari sisi pelajaran dan pertumbuhan jasmani hambatan belajar dapat diselidiki.
1. Segi pelajaran
Dalam segi pelajaran, hambatan bagi anak dapat dilihat dari kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung. Pada umumnya bila terdapat perbedaan yang signifikan
antara kemampuan belajar dengan hasil pelajaran, dapat disimpulkan anak
tersebut mengalami kelambanan belajar.
2. Segi pertumbuhan fisik
Hal ini meliputi beberapa hal: berbicara, berpikir, mengingat, dan hambatan
fungsi indra. Hambatan berbicara merupakan hambatan belajar yang sering terdapat
pada tingkat anak prasekolah, dan umumnya mengakibatkan anak terlambat bicara.
Sedangkan masalah hambatan dalam berpikir terlihat dari anak yang mengalami
kesulitan dalam membentuk konsep, mengaitkan apa yang dipikirkan, dan
memecahkan masalahnya. Seorang anak yang memiliki hambatan dalam mengingat akan
kesulitan mengingat apa yang telah ia lihat dan ia dengar, padahal daya ingat
merupakan syarat utama untuk belajar. Anak juga tidak mampu memusatkan pikiran
pada sesuatu yang harus dipilihnya, ia hanya berlari terus ke sana ke mari, dan
tidak memiliki konsentrasi belajar dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan
hambatan fungsi indra termasuk hambatan dalam penglihatan dan pendengaran.
PENYEBAB MASALAH
1. Faktor keturunan
Di Swedia, Hallgren (1950) melakukan penelitian dengan objek keluarga dan
menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam
membaca, menulis, dan mengeja. Kesimpulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh
faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann (1959), mempelajari dan membandingkan
anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan
bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal
kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur.
2. Fungsi otak kurang normal
Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami masalah
pada saraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit.
Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak
yang lamban belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban
belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para
ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli
saraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai “disfungsi otak”
ketimbang “cedera otak”. Sebenarnya, sangatlah sulit untuk memastikan bahwa
keadaan itu disebabkan oleh cedera otak.
3. Masalah organisasi
berpikir
Anak yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan
tentang dunia luas. Mereka tidak mampu berpikir secara normal. Misalnya, anak
yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang
dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang,
dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.
4. Kekurangan gizi
Berdasarkan penelitian terhadap anak dan binatang, ditarik suatu kesimpulan
bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi.
Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan
bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu
akan memengaruhi perkembangan saraf utamanya, dan tentunya membawa dampak yang
kurang baik dalam proses belajar.
5. Faktor lingkungan
Pengaruh lingkungan, gangguan nalar, dan emosi, ketiganya mempunyai ciri khas
yang sama, yaitu dapat mengakibatkan kesulitan belajar. Yang dimaksud dengan
faktor lingkungan ialah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat mengganggu
perkembangan mental anak, misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan
lain-lain. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga,
dan kesalahan dalam menangani anak. Meskipun faktor ini dapat memengaruhi,
tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya hambatan. Yang
pasti, faktor tersebut bisa mengganggu ingatan dan daya konsentrasinya. Dan
dari pengalaman dapat dipetik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak
menguntungkan sedikit banyak bisa memengaruhi kecepatan belajar.
PENYELESAIAN MASALAH
1. Pemeliharaan sejak dini
Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam
berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan
lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk
pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda
dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus
serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes
IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan
pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan
belajar.
2. Pengembangan secara
keseluruhan
Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan
perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan
apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan
kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang
sehat.
3. Lembaga pendidikan khusus
atau umum
Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong,
anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus
atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena
adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan
adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil
belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di
lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga
pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh
teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih
tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang
lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi
bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.
4. Memberikan pelajaran
tambahan
Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan
belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer.
Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan
yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa
penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini
komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Gereja atau sekolah dapat
menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar.
5. Latihan indra
Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan
intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan
indra kepada mereka.
6. Prinsip belajar
Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya
memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.
7. Dukungan orang tua
Dorongan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang
lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orang tua bekerja
sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan
diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, ibu boleh meminta izin
untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah. Ikutilah seminar-seminar
mengenai anak yang lamban belajar untuk menambah wawasan Anda.
1.
1. Latihan indra
Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan,
pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk
atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau
halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.
2. Latihan koordinasi
Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai,
meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut
kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai
atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan
sebagainya.
3. Latihan konsentrasi
Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang
ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu,
atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.
4. Latihan keseimbangan
Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih
gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan
titian, senam irama, dan sebagainya.
1.
1. Usahakan agar anak lebih
banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang
berulang-ulang.
2. Dorong anak untuk mencari
tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian,
anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
3. Beri dukungan moril atas
setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah
kepada anak.
4. d. Perhatikan taraf
kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak
mengalami kegagalan.
5. Lakukan latihan secara
sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
6. Boleh memberikan
pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
7. Jangan merencanakan
pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
8. h. Gunakan teknik bahasa
yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
9. Lingkungan belajar yang
sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat
duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.
10.Gagap
Pada Anak, Tips Untuk Orang Tua
Apakah gagap itu? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Anak usia
2 sampai 5 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat
yang diucapkan kepadanya. Ia kadang-kadang juga mengucapkan ungkapan-ungkapan
seperti “ee” atau “mm” saat ia berbicara. Hal ini dianggap normal bila
terjadi pada anak yang masih belajar berbicara.
Anak pada golongan usia tersebut masih mempelajari cara berbicara,
mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata
baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara
bertanya serta mempelajari “akibat” dari kata-kata yang mereka ucapkan. Oleh
karena itu, anak pada golongan usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan
kelancaran berbicara.
Apakah
Penyebab Gagap?
Banyak orang tua yang merasa bahwa gagap disebabkan oleh cara mendidik anak
atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Tetapi menurut para ahli, gagap
tidak disebabkan oleh perilaku orang tua. Kenyataannya, penyebab gagap sampai
saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan
yang sangat rumit dan banyak berkaitan dengan hal-hal lain.
Anak laki-laki lebih banyak mengalami gagap dari pada anak perempuan dengan
perbandingan tiga banding satu. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor
lingkungan, seperti stres.
Tanda-Tanda Awal
Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat
anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang
tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang
umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran
merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak
berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran
berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul.
Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila
kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun.
Anak Usia Sekolah
Saat anak mulai memasuki usia sekolah, kemampuan dan keterampilan berbicaranya
akan semakin terasah. Umumnya anak akan semakin lanca berbicara dan ia sudah
tidak gagap lagi. Jika ia masih gagap, umumnya pada usia tersebut ia sudah
mulai merasa malu akan hal tersebut. Anak seperti ini membutuhkan latihan
khusus untuk membantunya dalam berkomunikasi.
Bantuan
Yang Diperlukan
Seorang anak sebaiknya
mulai mendapat bantuan khusus bila:
- orang tua mulai merasa
khawatir akan kelancaran berbicara anaknya
- anak terlalu sering
mengulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat
- pengulangan suara-suara
seperti “aa” semakin sering diucapkannya
- anak tampak kesulitan
saat akan berbicara
- gangguan kelancaran
berbicaranya semakin berat
- mimik muka anak tampak
tegang saat berbicara
- suara anak terdengar
tegang saat mengucapkan kata-kata bernada tinggi
- anak sering menghindari
keadaan dimana ia harus berbicara
Jika ada tanda-tanda diatas yang tampak saat anak berbicara maka sebaiknya
orang tua mulai menghubungi dokter atau ahli terapi bicara. Semakin dini
bantuan yang diberikan kepada seorang anak maka semakin baik pula hasil yang
akan diperoleh.